Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak 20 Rukun Tetangga (RT) di Jakarta Timur pada Senin (20/4) pagi hingga pukul 09.00 WIB terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 180 sentimeter (cm) alias 1,8 meter di titik tertinggi.
"Data genangan dan banjir di Kota Jakarta Timur hari ini kondisi sampai dengan pukul 09.00 WIB, jumlah kecamatan terdampak ada dua, dengan kelurahan terdampak tiga, sebanyak 11 RW, 20 RT," kata Kepala Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kota Administrasi Jakarta Timur Rangga Bima Setiawan saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin (20/4).
Menurut dia, banjir mulai terjadi sejak awal hari dan mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banjir mulai terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dengan ketinggian awal berkisar 20 hingga 50 cm. Namun, air terus meningkat hingga pagi hari di sejumlah titik," ujar Rangga.
Wilayah terdampak banjir itu tersebar di dua kecamatan, ialah Kecamatan Jatinegara dan Kecamatan Kramat Jati, nan mencakup tiga kelurahan utama, ialah Kampung Melayu, Cawang, dan Cililitan, serta sebagian wilayah Bidara Cina
Di Kelurahan Kampung Melayu, tepatnya di Jalan Kebon Pala II, RW 04 dan RW 05, ketinggian air meningkat dari 50 cm pada pukul 03.00 WIB menjadi 150 cm lebih pada pukul 09.00 WIB. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah titik lain dengan kenaikan air nan cukup cepat.
Sementara itu, titik banjir terparah terjadi di Jalan Tanjung Lengkong, Gang Macan, RW 07, Kelurahan Bidara Cina.
"Ketinggian air sempat mencapai 180 sentimeter pada pukul 07.00 WIB sebelum berangsur turun menjadi 140 sentimeter pada pukul 09.00 WIB," ucap Rangga.
Di wilayah Kecamatan Kramat Jati, seperti di Kelurahan Cawang dan Cililitan, banjir juga mengalami peningkatan sejak awal hari.
Di Jalan Taman Harapan dan Jalan Raya Kalibata, Gang Haji Maliki, ketinggian air mencapai 150 cm pada pagi hari, sedangkan di beberapa titik di Cililitan, genangan berkisar antara 30 hingga 70 cm.
Secara keseluruhan, banjir tersebut berakibat pada 11 RW dan 20 RT, dengan jumlah penduduk terdampak mencapai 705 kepala family (KK) alias sekitar 2.259 jiwa.
"Untuk sementara, belum ada penduduk nan mengungsi. Warga tetap memperkuat di rumah masing-masing sembari memantau kondisi air," jelas Rangga.
Dia menyebut pihaknya terus melakukan pemantauan di letak terdampak serta menyiagakan personel untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan air.
"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi," tutur Rangga.
Sebelumnya, BPBD DKI mengeluarkan peringatan awal potensi banjir rob nan diperkirakan terjadi pada 17 hingga 23 April 2026 di sejumlah area pesisir utara Jakarta.
Potensi rob itu dipicu oleh kejadian fase bulan baru pada 17 April 2026 dan perigee pada 19 April 2026 nan berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD DKI menyiagakan jasa darurat 112 nan dapat dihubungi masyarakat andaikan terjadi kondisi kedaruratan. Masyarakat juga dapat memantau perkembangan peringatan awal gelombang pasang melalui kanal resmi BPBD dan situs pemantauan banjir milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
(antara/gil)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·