CNN Indonesia
Jumat, 01 Mei 2026 18:00 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa tanda pertemanan toxic nan perlu diperhatikan. (BlueOlive/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tidak semua pertemanan terasa nyaman. Ada kalanya, hubungan nan semestinya jadi tempat berbagi justru bikin lelah, cemas, apalagi mempertanyakan diri sendiri.
Masalahnya, pertemanan toxic sering kali tidak terlihat jelas di awal. Tidak selalu berupa bentrok besar, tapi bisa muncul lewat hal-hal mini nan terjadi berulang.
Padahal, pertemanan nan sehat bisa meningkatkan kesejahteraan. Sementara hubungan nan jelek justru berangkaian dengan stres hingga indikasi depresi. Lalu, seperti apa tanda-tandanya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Setelah bertemu, Anda justru merasa terkuras
Coba perhatikan perasaanmu setelah berjumpa alias berinteraksi dengan kawan tertentu. Apakah Anda merasa lebih ringan, alias justru capek secara emosional?
Pertemanan nan sehat biasanya memberi rasa kondusif alias dukungan. Sebaliknya, hubungan nan toxic sering membikin seseorang merasa mental drain, tegang, alias seperti kudu selalu berhati-hati.
Sejumlah studi, termasuk riset Quantifying Toxic Friendship, menunjukkan bahwa kualitas pertemanan nan jelek berangkaian dengan tingkat kesejahteraan nan lebih rendah. Sementara support emosional dari kawan justru berkedudukan krusial dalam menjaga kesehatan psikologis.
2. Hubungannya terasa berat sebelah
Kamu selalu jadi pihak nan menghubungi duluan, mendengarkan, alias mengalah. Tapi saat Anda butuh, mereka tidak ada.
Pola hubungan seperti ini dikenal sebagai one-sided friendship. Mengutip dari Healthline, pertemanan sepihak ditandai dengan komunikasi, waktu, dan upaya nan tidak seimbang.
Padahal, hubungan nan sehat semestinya dibangun dari timbal balik, bukan hanya satu pihak nan terus memberi.
3. Sering merendahkan, tapi dibungkus dengan candaan
Komentar nan terdengar seperti bercanda, tapi sebenarnya menyakitkan, juga bisa jadi tanda.Mulai dari sindiran halus, mempermalukan di depan orang lain, hingga ucapan tertentu nan membuatmu merasa tidak cukup baik.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pengalaman direndahkan dalam pertemanan berangkaian dengan peningkatan akibat masalah psikologis. Jadi, ini bukan sekadar baper, tapi dampaknya juga nyata
4. Ada pola manipulasi alias bikin Anda merasa bersalah
Tidak semua pertemanan toxic terlihat kasar. Kadang justru muncul dalam corak manipulasi nan halus. Misalnya membuatmu merasa bersalah jika tidak menuruti keinginannya, memutarbalikkan situasi, alias membuatmu merasa bertanggung jawab atas emosinya.
Pola ini termasuk dalam corak perilaku negatif nan berulang dan bisa merugikan secara emosional.
5. Batasmu tidak pernah dihormati
Kamu sudah mencoba menjelaskan batasan, tapi terus dilanggar. Tak hanya itu, setiap bentrok nan terjadi terasa berulang tanpa ada perubahan.
Konflik memang wajar dalam pertemanan. Tapi nan jadi masalah adalah ketika:
- bentrok tidak pernah betul-betul selesai,
- Anda tidak didengar,
- hubungan membuatmu merasa tidak aman.
Hubungan nan penuh bentrok dan tidak sehat bisa berakibat pada perkembangan mental dan kesejahteraan seseorang.
Menyadari bahwa sebuah pertemanan tidak sehat memang tidak mudah. Apalagi jika hubungan tersebut sudah berjalan lama. Penting untuk diingat bahwa pertemanan semestinya menjadi ruang nan mendukung, bukan justru menguras energi.
Kalau sebuah hubungan lebih sering membuatmu capek daripada nyaman, mungkin bukan Anda nan terlalu sensitif, tapi memang ada sesuatu nan perlu dievaluasi.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·