CNN Indonesia
Minggu, 19 Apr 2026 10:30 WIB
Penurunan muka air Danau Toba tak hanya berakibat negatif pada sektor pertanian dan salah satu industri pembangkit listrik tenaga air. ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Jakarta, CNN Indonesia --
Penurunan muka air Danau Toba kembali menjadi sinyal peringatan bagi sektor perikanan budidaya, khususnya keramba jaring apung (KJA) di perairan itu.
KJA di Danau Toba selalu menjadi perhatian lantaran jumlahnya ribuan apalagi pernah mencapai puluhan ribu. Keramba-keramba tersebut menjadi sumber utama penghidupan para nelayan di sekitar Danau Toba.
Penurunan muka air waduk ini tidak hanya berakibat negatif pada sektor perikanan, tetapi juga pada sektor pertanian dan salah satu industri pembangkit listrik tenaga air terbesar di Indonesia nan dikelola PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data satelit altimetri menunjukkan bahwa sejak Juni 2025 hingga Maret 2026, muka air waduk terus menurun hingga mencapai sekitar 1,6 meter. Jika musim tandus terus berlanjut, muka air waduk berpotensi terus turun hingga 2 meter sehingga menakut-nakuti beragam aktivitas di sekitar Danau Toba mengutip Antara, Minggu (19/4).
Kondisi tersebut bukan sekadar kejadian hidrologi biasa. BMKG memprediksi kemungkinan terjadinyaEl NiñodanIndian Ocean Dipole(IOD) fase positif secara berbarengan pada 2026. Kombinasi ini dikenal dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk di area Danau Toba, nan pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air waduk dan dapat menyebabkan kematian massal ikan di KJA.
Pengalaman masa lampau menunjukkan bahwa penurunan muka air waduk kerap berasosiasi dengan kejadian kematian massal ikan di KJA. Tahun 2016 menjadi musibah nan paling menyedihkan: saat muka air surut hingga sekitar 2 meter, ribuan ton ikan di KJA mati, menimbulkan kerugian nelayan KJA hingga puluhan miliar rupiah. Kejadian serupa, meski dalam skala lebih kecil, juga terjadi pada 2018, 2020, dan 2023 ketika muka air relatif rendah.
Namun, krusial untuk dipahami bahwa penurunan muka air bukanlah penyebab langsung kematian ikan. Ancaman sebenarnya muncul ketika kondisi tersebut beriringan dengan aspek cuaca ekstrem, terutama angin kencang. Dalam situasi ini, terjadi percampuran massa air dan pengadukan sedimen dari dasar perairan-wilayah nan selama ini menjadi tempat akumulasi limbah organik dari aktivitas budidaya dan domestik.
Peristiwa di Pangururan pada tahun 2025 menjadi contoh nyata. Meski penurunan muka air tidak terlalu signifikan, kondisi perairan nan relatif dangkal ditambah angin kencang memicu percampuran vertikal.
Sedimen lembut terangkat ke permukaan dan dapat menyumbat insang ikan. Pada saat nan sama, air dari lapisan bawah nan miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan penurunan drastis kadar oksigen terlarut sehingga ikan di KJA mati.
Masalah tidak berakhir di situ. Di dasar danau, limbah organik seperti sisa pakan, kotoran ikan, dan limbah rumah tangga terus menumpuk. Dalam kondisi normal, bahan ini diuraikan oleh kuman dengan support oksigen. Namun, ketika oksigen habis, proses penguraian berjalan secara anaerobik dan menghasilkan gas berbisa seperti hidrogen sulfida dan metana.
Hidrogen sulfida dapat merusak sistem pernapasan ikan, sementara metana turut menurunkan kualitas air. Kombinasi antara rendahnya oksigen, tingginya kandungan gas beracun, dan meningkatnya kekeruhan air menjadi penyebab kematian massal ikan di KJA.
Melihat laju penurunan muka air nan cukup tajam sejak 2025 dan potensi musim kering nan tetap berlanjut, kewaspadaan wajib ditingkatkan. Risiko kematian massal ikan di KJA dan sekitarnya pada 2026 terbuka lebar jika tidak ada langkah mitigasi nan serius.
Nelayan KJA menjadi pihak paling rentan dalam situasi ini. Kondisi ini bakal makin parah mengingat nilai pakan ikan saat ini meningkat lantaran situasi dunia nan melanda seluruh bumi akibat perang di area teluk.
Karena itu, peningkatan kesiapsiagaan di tingkat lapangan sangat penting. Jika mulai terlihat tanda-tanda cuaca ekstrem, misalnya kecepatan angin tinggi dan warna air mulai keruh, maka, jika memungkinkan, KJA dipindahkan ke bagian perairan lebih dalam alias memanen ikan secepatnya.
Di sisi lain, pemerintah wilayah dan pemangku kepentingan perlu bergerak lebih proaktif, tidak hanya dengan imbauan, tetapi juga dengan sistem nan bisa memberikan peringatan awal secara jeli dan cepat.
Mengingat Danau Toba adalah waduk vulkanik terbesar di bumi dan beragam aktivitas manusia tergantung pada kondisi air di waduk ini, maka penguatan sistem pemantauan kualitas air menjadi penting.
(antara/mik)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·