Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak orang sering mendengar istilah OCD tanpa betul-betul memahami maknanya. Gangguan mental ini sering dianggap sepele padahal dapat berakibat besar pada kualitas hidup seseorang. Sebenarnya, apa itu OCD?
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) bukan sekadar tentang kebiasaan suka kebersihan alias kerapian, tetapi menyangkut pola pikir dan perilaku berulang nan susah dikendalikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak penderita OCD menyadari bahwa pikiran mereka tidak rasional, tetapi tetap merasa terdorong untuk melakukan tindakan tertentu.
Melansir dari laman American Psychiatric Association, berikut penjelasan tentang apa itu OCD, penyebab, gejala, dan langkah mengatasinya.
Apa itu OCD?
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan mental ketika seseorang mempunyai obsesi (pikiran, dorongan, alias gambaran nan tidak diinginkan dan berulang) serta kompulsi (perilaku alias tindakan berulang nan dilakukan untuk meredakan kekhawatiran akibat obsesi tersebut).
Penderita OCD sering kali merasa kudu melakukan ritual tertentu seperti mencuci tangan berkali-kali, memeriksa pintu alias kompor berulang, hingga menghitung langkah alias benda.
Jika tidak dilakukan, mereka merasa sangat resah alias takut bakal terjadi perihal buruk. OCD termasuk gangguan nan cukup umum, dengan prevalensi sekitar 1-2 persen populasi dunia, dan biasanya mulai muncul sejak masa remaja hingga dewasa muda.
Jenis gangguan nan berangkaian dengan OCD
Selain OCD, terdapat beberapa gangguan lain nan termasuk dalam golongan Obsessive-Compulsive and Related Disorders. Berikut penjelasan jenis-jenisnya.
a. Hoarding disorder (Gangguan menimbun barang)
Penderita hoarding disorder mengalami kesulitan untuk membuang alias melepaskan barang, apalagi nan sudah tidak berguna. Mereka merasa semua barang mempunyai nilai emosional alias mungkin dibutuhkan suatu hari nanti.
Akibatnya, rumah alias ruang pribadi menjadi penuh sesak dan tidak nyaman.
b. Body dysmorphic disorder (Gangguan gambaran tubuh)
Gangguan ini ditandai dengan obsesi berlebihan terhadap kekurangan bentuk nan sebenarnya mini alias apalagi tidak terlihat oleh orang lain.
Penderitanya terus-menerus merasa tidak puas dengan penampilan, bisa sampai melakukan pemeriksaan cermin berulang alias operasi plastik berulang kali.
c. Trichotillomania (Hair-pulling disorder)
Trichotillomania adalah dorongan tak tertahankan untuk mencabut rambut dari kulit kepala, alis, alias bagian tubuh lain. Meskipun penderita menyadari akibat negatifnya, mereka tetap merasa susah untuk menghentikan kebiasaan tersebut.
d. Excoriation (Skin-picking disorder)
Penderita gangguan ini sering kali menggaruk, mencubit, alias memencet kulitnya sendiri secara berlebihan hingga menyebabkan luka. Perilaku ini dilakukan untuk mengurangi stres alias kecemasan.
e. Olfactory reference disorder
Gangguan ini membikin seseorang percaya bahwa dirinya mengeluarkan aroma tidak sedap, padahal orang lain tidak merasakannya. Keyakinan ini menyebabkan rasa malu dan kemauan untuk mengelak dari lingkungan sosial.
Gejala utama OCD
Untuk memahami apa itu OCD, krusial mengenali dua komponen utamanya ialah obsesi dan kompulsi.
a. Obsesi
Obsesi adalah pikiran alias dorongan nan muncul secara terus-menerus dan menimbulkan kecemasan. Contohnya seperti berikut:
- Ketakutan bakal kontaminasi alias kuman.
- Pikiran religius nan dianggap menghujat.
- Ketakutan menyakiti diri sendiri alias orang lain.
- Kebutuhan ekstrem terhadap keteraturan alias simetri.
- Kekhawatiran berlebihan bahwa sesuatu belum selesai alias belum sempurna.
b. Kompulsi
Kompulsi adalah tindakan berulang nan dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran akibat obsesi. Beberapa contoh perilaku kompulsi meliputi:
- Mencuci tangan secara berlebihan.
- Mengecek pintu, kompor, alias lampu berulang kali.
- Mengatur barang agar sejajar alias simetris.
- Menghitung alias mengulang tindakan dengan jumlah tertentu.
- Mencari kepastian alias meminta agunan dari orang lain secara terus-menerus.
Jika tindakan ini berjalan lebih dari satu jam setiap hari alias mengganggu aktivitas harian, besar kemungkinan penderita mengalami OCD.
Penyebab dan aspek akibat OCD
Penyebab pasti apa itu OCD belum sepenuhnya diketahui tapi ada beberapa aspek nan diyakini berkedudukan sebagai:
- Genetik: OCD dapat diturunkan dalam keluarga
- Gangguan kegunaan otak: Perbedaan pada struktur otak, khususnya area nan mengatur perilaku dan kecemasan
- Faktor lingkungan: Stres berat, pengalaman traumatis, alias pola asuh nan terlalu ketat bisa memicu OCD
- Ketidakseimbangan kimia otak: Terutama kadar serotonin nan rendah, nan berkedudukan dalam mengatur suasana hati dan perilaku
Cara mengatasi OCD
Berikut beberapa metode penanganan nan terbukti efektif untuk mengurangi indikasi OCD.
a. Terapi perilaku kognitif CBT (Cognitive Behavioral Therapy)
CBT merupakan terapi utama untuk OCD. Pasien bakal dilatih menghadapi situasi nan menimbulkan kekhawatiran (exposure) tanpa melakukan tindakan kompulsif (response prevention).
Secara bertahap, pasien belajar bahwa rasa takutnya tidak bakal menjadi realita meskipun tidak melakukan ritual.
b. Pengobatan dengan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors)
Obat dalam terapi ini dapat membantu menyeimbangkan kadar serotonin di otak. Biasanya pengaruh positif baru terlihat setelah 6-12 minggu penggunaan rutin.
c. Neuromodulasi dan terapi alternatif
Dalam kasus berat, terapi seperti Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) alias Deep Brain Stimulation (DBS) dapat digunakan untuk merangsang bagian otak nan mengenai dengan OCD.
d. Dukungan family dan style hidup sehat
Dukungan dari lingkungan sekitar sangat krusial agar penderita tidak merasa sendirian. Selain itu, menjaga pola makan, tidur cukup, dan rutin berolahraga juga membantu mengelola stres nan memperburuk indikasi OCD.
Jika Anda alias orang terdekat menunjukkan indikasi OCD, jangan ragu untuk mencari support profesional. Dengan memahami apa itu OCD, penyebab, gejala, langkah mengatasinya adalah langkah awal menuju pemulihan dan kehidupan nan lebih seimbang.
(gas/fef)
[Gambas:Video CNN]
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·