Jakarta, CNN Indonesia --
Keyakinan Eko Yuli Irawan untuk menjadi atlet demi masa depan cerah telah terpatri sejak kecil, ketika dia memandang latihan angkat besi di kampungnya di Kota Metro, Lampung pada tahun 2000.
"Sejak pertama memandang angkat besi, saat itulah saya menemukan langkah untuk mengangkat derajat saya dan family saya," kata Eko dalam sebuah dalam movie pendek besutan jenama olahraga.
Kondisi ekonomi diakui Eko menjadi motivasi. Ayahnya adalah seorang tukang becak, sementara ibunya berdagang sayur. Rumah pun menumpang di tanah orang, nan bisa sewaktu-waktu diminta kembali oleh pemiliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat saya merantau, pikiran saya gimana jika tanah itu mau dipakai orangnya? Orang tua saya mau pindah ke mana? Jadi saya punya tekad dan ambisi, kudu mengejar prestasi untuk membantu orang tua," ungkap Eko dalam siniar berbareng Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari.
Eko menyadari, dia kudu menjadi juara agar dapat membantu orang tuanya keluar dari kemiskinan. Sepuluh bulan mengawali latihan angkat besi, dirinya sukses menjadi nan terbaik, lencana emas di kejuaraan nasional.
Dari situ, wawasan Eko terbuka. Ia makin antusias mengincar prestasi nan lebih tinggi, ialah emas Olimpiade.
"Pelatih bilang kelak jika levelnya di Olimpiade, saya bisa bantu orang tua saya," tutur laki-laki 36 tahun ini.
Butuh lima tahun bagi Eko untuk bisa masuk ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di 2006. Dirinya lantas dipercaya mewakili Merah Putih di kejuaraan bumi junior angkat besi tahun 2006 di Hangzhou, dan sukses lencana perak.
Pada 2007, dia akhirnya mendulang lencana emas dalam kejuaraan bumi junior angkat besi nan berjalan di Praha. Emas ini memberinya bingkisan dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) kala itu senilai Rp25 juta, nan digunakannya untuk membeli tanah bagi kedua orang tuanya.
"Bersamaan dengan saya dapat bingkisan itu, tidak sengaja orang tua di kampung berjumpa orang nan mau jual tanah. Jadi langsung saya kirim uangnya buat beli tanah itu," kisah lifter peraih empat lencana Olimpiade ini.
Keberhasilan membahagiakan family membikin Eko makin antusias mencetak prestasi. Di SEA Games 2007 Thailand, Eko kembali meraih lencana emas beserta bingkisan nan digunakannya untuk membangun rumah.
"Itu pertama kalinya di multievent saya bisa dapat medali. Bonusnya kan lumayan, Rp200 juta. Dari situ saya pulang ke Lampung itu, orang tua saya menjemput di bandara, mereka menangis haru. Karena bonusnya betul-betul buat membangun rumah, dari kami nan sebelumnya tidak punya apa-apa," urai Eko.
Orang tua Eko nan sebelumnya sempat tak setuju dengan keputusannya menjadi atlet pun sekarang memberikan support penuh. Berbekal angan mereka, serta latihan dan disiplin, Eko Yuli melesat menjadi lifter Indonesia paling konsisten dalam keikutsertaan di Olimpiade.
Ia telah lima kali mewakili Indonesia di arena olahraga terbesar di bumi ini secara beruntun, mulai Beijing 2008 hingga Paris 2024. Dengan pencapaian dua lencana perak, masing-masing pada kategori 62 kilogram di Olimpiade 2016 dan kategori 61 kilogram di Olimpiade 2020, serta dua lencana perak masing-masing kategori 56 kilogram di Olimpiade 2008 dan 62 kilogram di Olimpiade 2012.
Berbagai prestasi telah dicetak Eko dalam ragam keikutsertaannya di ajang-ajang dunia. Pundi-pundi lencana emas pun banyak dikoleksinya, berbareng dengan bonus-bonus rupiah sebagai corak penghargaan dari Pemerintah.
Bonus-bonus itu dimaksimalkan Eko demi masa depan keluarganya, termasuk membelikan sawah untuk kedua orang tuanya.
"Bonus Olimpiade Beijing jika tidak salah Rp300 juta, saya belikan sawah untuk orang tua. Setelah itu orang tua bertani di sawah sendiri. Sebelumnya kan bertani di tanah milik orang dengan sistem bagi hasil," kata Eko nan pernah merintis upaya sepatu latihan angkat besi ini.
Eko kemudian membangun sasana tempat latihan angkat besi miliknya sendiri di Bekasi. Sasana ini terbuka bagi siapa saja nan mau mengetahui tentang olahraga angkat besi dengan Eko terjun sendiri sebagai pembimbing untuk mendorong regenerasi atlet.
"Saya membangun sasana ini untuk bisa mendidik anak-anak latihan, bibit-bibit nan bisa menuju Olimpiade seperti saya. Saya dulu dari awal juga seperti ini, berjumpa tempat latihan, dilatih, difasilitasi, dengan program nan terarah dan sebagainya," kata Eko dalam wawancara dengan media.
"Saya mau anak-anak di sini juga bisa merasakan perihal nan sama nan saya rasakan, membantu mereka untuk bisa membantu keluarganya, orang tuanya, jika bisa sukses dan sukses nanti," pungkasnya.
(rea/rir)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·