CNN Indonesia
Kamis, 02 Apr 2026 23:00 WIB
Menurut Fadli Zon, jika movie Indonesia bisa sigap masuk jasa streaming setelah di bioskop, itu bisa membahayakan upaya bioskop nan menyerap tenaga kerja. (ANTARA FOTO/FAUZAN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan siap membikin izin agar film Indonesia nan tayang di Indonesia tidak sigap masuk jasa streaming seperti Netflix.
Menurut Fadli, jika movie Indonesia bisa langsung sigap masuk jasa streaming setelah di bioskop, itu bisa membahayakan upaya bioskop nan menyerap banyak tenaga kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bioskop bisa tutup lama-lama jika orang sudah mulai nonton langsung di gadget," kata Fadli di Jakarta, seperti diberitakan Antara pada Rabu (1/4).
Fadli mengatakan dirinya siap mendukung izin nan memberikan kewenangan eksklusif penayangan movie di bioskop selama empat bulan dan bakal berbincang dengan produser mengenai perihal itu. Selama ini, movie nan tayang di bioskop Indonesia mengikuti sistem pasar, ialah nan bisa menarik penonton bakal lebih lama memperkuat di bioskop.
Sementara itu, bioskop di Indonesia juga tetap jauh dari kata cukup nan membikin ruang persaingan menjadi sempit sedangkan produksi movie Indonesia juga terus bertambah.
Produser nan filmnya sigap tergusur dari bioskop gegara tidak sanggup menarik penonton kemudian memilih untuk menjual kewenangan siarnya kepada jasa streaming.
Praktik ini juga sempat membikin cemas di Amerika Serikat, terutama saat Warner Bros diincar oleh Netflix beberapa waktu lalu, nan membikin pebisnis bioskop merasa mereka tak bisa lagi memasang movie lebih lama dan kehilangan pendapatan.
"Di Eropa orang susah masuk datang ke bioskop lagi, sangat sedikit. Banyak bioskop nan tutup. Di Korea juga sekarang meskipun filmnya luar biasa kemana-mana tetapi orang nan datang ke bioskop sudah sangat sedikit," kata Fadli.
Infrastruktur Indonesia kurang, sistemnya brutal
Pada Januari 2026, pengamat movie Hikmat Darmawan menjelaskan, industri perfilman saat ini berjuntai pada sistem nan terbilang brutal. Ada begitu banyak movie nan mau tayang di bioskop sementara sarana ekshibisi tetap terbilang terbatas.
"Seperti nan pernah dijelaskan oleh Ernest Prakasa, jika tingkat okupansi di bawah 10 persen, movie tersebut bakal diturunkan dari layar secara otomatis. Itulah kenapa saya katakan sistem ini bekerja seperti mesin," kata Hikmat kala itu kepada CNNIndonesia.com.
"Bayangkan, hari pertama tayang adalah Kamis. Jika pada hari kedua tingkat okupansinya dianggap tidak memadai, movie bisa langsung dicopot," kata Hikmat nan juga menegaskan langkah ini tidak memandang kualitas produksi dari movie nan ditayangkan.
Hikmat menyebut industri movie Indonesia saat ini terjebak dalam sistem nan sebenarnya menghalang perkembangan kualitas perfilman nasional, seperti jumlah layar nan tidak bisa menampung jumlah produksi film, masalah kualitas film, hingga persoalan kekuasaan golongan tertentu.
"Secara hukum, movie memang kudu tetap diputar, namun undang-undang tidak menentukan kapan waktu pemutarannya. Akibatnya, ada movie nan baru diputar setelah 3 hingga 6 tahun, nan tentu saja merugikan investor, terutama penanammodal baru," kata Hikmat.
(end)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·