CNN Indonesia
Selasa, 28 Apr 2026 18:00 WIB
Ilustrasi. Sering konsultasi Tarot rupanya bisa memicu pengaruh psikologis, salah satunya ketagihan. (iStock/Warren-Pender)
Jakarta, CNN Indonesia --
Fenomena konsultasi tarot kian populer, terutama di tengah masyarakat nan mencari kepastian di tengah ketidakpastian hidup. Namun di kembali daya tariknya, praktik ini rupanya menyimpan potensi akibat psikologis, termasuk memicu ketergantungan.
Psikolog dan Direktur Tabula Psychology Center, Arnold Lukito, menjelaskan bahwa secara psikologis, konsultasi tarot memang bisa membikin seseorang 'terjebak' untuk terus kembali.
Menurutnya, sistem ini dikenal sebagai variable reinforcement schedule, ialah pola penguatan nan sama seperti pada mesin slot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kadang referensi tarot terasa sangat jeli (reward), kadang tidak. Justru ketidakterdugaan ini nan membikin otak kita terus kembali," ujarnya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Ketika keputusan tak lagi datang dari diri sendiri
Lebih dari sekadar kebiasaan, ketergantungan pada tarot juga bisa muncul dalam corak nan lebih lembut dan mengkhawatirkan. Arnold menyebutnya sebagai externalization of decision-making, ialah kecenderungan menyerahkan pengambilan keputusan kepada aspek eksternal.
Setiap kali seseorang mengambil keputusan krusial berasas tarot alias ramalan, secara tidak langsung dia sedang melatih otaknya untuk tidak mempercayai penilaiannya sendiri.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan self-efficacy alias kepercayaan terhadap keahlian diri dalam menghadapi masalah.
"Ketergantungan bukan sekadar sering konsultasi, tapi ketika seseorang tidak bisa lagi mengambil keputusan sederhana tanpa terlebih dulu menarik kartu alias meminta ramalan," jelasnya.
Meski demikian, Arnold tidak sepenuhnya melarang praktik konsultasi tarot. Dari perspektif psikologi, dia memandang ada ruang di mana tarot bisa memberikan manfaat, asalkan ditempatkan secara tepat.
Tarot, kata dia, dapat berfaedah sebagai perangkat refleksi, mirip dengan teknik proyektif dalam psikologi. Dalam konteks ini, kartu bukanlah penentu masa depan, melainkan cermin untuk memahami isi pikiran dan emosi nan sebenarnya sudah ada dalam diri.
"Yang bekerja sebenarnya bukan kartunya, tapi proses refleksinya," katanya.
Cara menyikapi tarot dengan sehat
Agar tidak terjebak dalam ketergantungan, ada beberapa sikap nan disarankan.
Pertama, kata Arnold ubah langkah pandang terhadap tujuan konsultasi. Alih-alih bertanya 'apa nan bakal terjadi?', lebih baik mengusulkan pertanyaan seperti 'apa nan perlu saya pertimbangkan?'. Perubahan mini ini membantu menjaga kendali tetap berada di tangan sendiri.
Kedua, krusial untuk menjaga batas, baik secara finansial maupun emosional. Jika seseorang merasa kudu berkonsultasi setiap bakal mengambil keputusan, alias pengeluaran untuk tarot mulai mengganggu kondisi keuangan, perihal tersebut bisa menjadi tanda bahaya.
Ketiga, ketika hasil ramalan terasa buruk, krusial untuk tidak menganggapnya sebagai vonis.
Dalam ilmu jiwa kognitif, kepercayaan dapat membentuk perilaku, dan perilaku pada akhirnya memengaruhi hasil. Jika seseorang meyakini bahwa dia bakal gagal, maka kesempatan kegagalan bisa meningkat lantaran otak condong mencari bukti nan menguatkan kepercayaan tersebut, kejadian nan dikenal sebagai self-fulfilling prophecy dan confirmation bias.
"Kalau hasilnya buruk, sadari bahwa itu hanya satu interpretasi dari satu orang pada satu momen. Masa depan terlalu kompleks untuk ditentukan oleh 78 kartu," ujar Arnold.
Arnold mengingatkan, manusia memang memerlukan 'peta' untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Namun, peta nan paling jeli bukanlah nan datang dari luar, melainkan nan dibangun dari kesadaran diri, nilai nan diyakini, dan keberanian untuk melangkah meski tanpa kepastian penuh.
"Tarot mungkin bisa menjadi perangkat bantu sesekali. Tapi kendali atas hidup, tetap semestinya berada di tangan sendiri," katanya.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·