Jakarta, CNN Indonesia --
Koki terkenal asal Spanyol-Amerika Serikat (AS), José Andrés, mengingatkan gelombang baru inflasi akibat lonjakan nilai minyak bakal menimbulkan kekacauan terhadap industri restoran di Negeri Paman Sam.
Mengutip Yahoo Finance, Andrés menyampaikan restoran merupakan jenis upaya mini nan sangat rentan terlebih biaya bahan makan dan tenaga kerja nan terus meningkat akibat beragam faktor.
"Biaya bahan makanan meningkat lantaran beragam faktor. Biaya tenaga kerja juga meningkat lantaran beragam faktor. Namun, restoran sudah merupakan jenis upaya mini nan sangat rentan," ujar Andrés kepada Yahoo Finance dalam konvensi Semafor World Economy pada Selasa (14/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagian besar restoran di Amerika dimiliki oleh jurumasak dan pemilik restoran kecil. Jika Anda bekerja siang dan malam dan pada akhir tahun setiap tahun mengalami kerugian, kenapa Anda bakal tetap buka?" tambahnya.
Andrés merupakan pendiri José Andrés Group nan mengoperasikan lebih dari 40 restoran di AS. Selain itu, dia juga pendiri World Central Kitchen, ialah organisasi nirlaba nan bertindak sebagai penanggap pertama dalam penyediaan makanan selama krisis kemanusiaan dan iklim.
Menurutnya, restoran saat ini berada dalam situasi nan paling sulit, setelah melewati masa pandemi Covid-19. Andrés menjelaskan andaikan industri restoran tidak berhati-hati maka bakal berisiko gulung tikar.
"Saya merasa restoran saat ini berada dalam salah satu situasi paling sulit. Dan kita sudah melewati Covid! Namun saat ini, bagi industri restoran, saya merasa jika kita tidak berhati-hati, restoran bakal gulung tikar dan kita bakal memandang persentase penutupan nan lebih besar dari nan kita bayangkan," ujar Andrés.
Selain itu, Andrés juga menambahkan penurunan pariwisata juga telah merugikan industri restoran saat ini.
"Kami tetap kekurangan US$50 miliar (atau setara Rp856,88 triliun dengan dugaan kurs Rp17.140 per dolar AS) dari puncak pariwisata di Amerika. Hal ini juga telah memberikan tekanan nan sangat besar pada restoran di seluruh Amerika," ujarnya.
Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Maret 2026 naik 3,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada Jumat (10/4) lalu.
Harga bensin naik hingga 21,2 persen akibat kenaikan nilai minyak nan dipicu oleh perang di Timur Tengah. Hal ini merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1967 sehingga secara tahunan nilai bensin telah naik sebesar 18,9 persen.
Kemudian, indeks buah dan sayuran naik sebesar 4,0 persen dalam 12 bulan terakhir, sedangkan indeks minuman non-alkohol naik 4,7 persen.
Menurut Asosiasi Restoran Nasional AS, saat ini susah untuk menyajikan menu kepada pengguna dengan langkah nan efisien secara biaya dan kesulitan mengisi lowongan pekerjaan dengan penghasilan rendah, seperti pencuci piring.
Selain itu, tingkat tenaga kerja di restoran tetap di bawah nomor sebelum pandemi di 18 negara bagian dan Distrik Kolumbia.
[Gambas:Youtube]
(fln/sfr)
Add
as a preferred source on Google
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·