Jakarta, CNN Indonesia --
Latar belakang pemberontakan DI TII dan RMS di Indonesia berangkaian dengan dinamika politik pada masa awal kemerdekaan. Kedua aktivitas ini mencerminkan keragaman kepentingan nan berkembang saat itu.
Pasalnya, setelah proklamasi, situasi politik Indonesia belum sepenuhnya stabil. Efeknya, muncul beragam aktivitas nan menentang pemerintah pusat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) muncul dengan dorongan ideologis untuk membentuk negara Islam. Sementara itu, RMS lahir dari semangat kedaerahan dan pengaruh politik federal warisan kolonial.
Latar belakang pemberontakan DI TII
Melansir buku Bahan Pembelajaran Sejarah Nasional Indonesia VI karya Syarifuddin, pemberontakan DI/TII dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, seorang tokoh nan sebelumnya ikut dalam perjuangan kemerdekaan.
Kartosuwiryo sempat terlibat dalam perlawanan sebelum Perjanjian Renville, tapi kemudian memilih jalannya sendiri. Kartosuwiryo memandang bahwa perjuangan kemerdekaan belum selesai dan Indonesia semestinya berdiri sebagai negara Islam.
Keinginan tersebut membuatnya menolak integrasi penuh ke dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia. Ia kemudian memproklamasikan keinginannya mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 7 Agustus 1949.
Tidak hanya itu, Kartosuwiryo juga membentuk pasukan sendiri, sebagian besar pernah mendapatkan pengalaman tempur, apalagi ada nan memperoleh training militer dari Hizbullah. Dengan pedoman kekuatan inilah, DI/TII berkembang menjadi aktivitas bersenjata nan cukup kuat.
Konsep Kartosuwiryo mengenai pembentukan Negara Islam Indonesia sukses menarik simpati sejumlah tokoh dengan hubungan Islam di beragam daerah. Mereka kemudian berasosiasi dan memperluas jaringan DI/TII di luar Jawa Barat.
Akibatnya, pemerintah pusat menghadapi kesulitan besar lantaran pemberontakan ini tidak hanya berjalan lama, tetapi juga menyebar ke beberapa wilayah seperti Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Gerakan ini berjalan selama lebih dari 13 tahun dan berubah menjadi perang berkepanjangan nan menelan banyak korban jiwa, baik dari pihak militer maupun sipil. Pada akhirnya, Kartosuwiryo berbareng para pengikut terdekatnya sukses ditangkap oleh pemerintah pada tahun 1962.
Latar belakang pemberontakan DI TII RMS
Tantangan lain nan dihadapi pemerintah adalah munculnya aktivitas separatis di Maluku. Melansir buku Sejarah: SMA kelas XII karya M. Habib Mustopo, aktivitas ini muncul setelah bubarnya Negara Indonesia Timur (NIT).
Sebagian golongan Masyarakat, terutama mantan personil KNIL dan elit lokal, merasa tidak puas atas pembubaran NIT dan bergabungnya wilayah tersebut ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Mereka merasa kehilangan kedudukan krusial nan sebelumnya dimiliki serta cemas posisinya terpinggirkan dalam struktur negara baru.
Tokoh nan kemudian memimpin pergerakan ini adalah Dr. Christian Robert Steven Soumokil, mantan Jaksa Agung NIT. Ia memanfaatkan situasi politik nan tidak stabil pasca kegagalan pemberontakan Andi Azis di Makassar.
Dengan support pasukan KNIL dan jaringan militer lainnya, Soumokil berupaya mendirikan negara baru berjulukan Republik Maluku Selatan (RMS). Sentimen sebagian masyarakat Maluku nan tetap mempunyai kedekatan dengan Belanda turut memperkuat aktivitas tersebut.
Selain aspek politik, muncul pula ketegangan sosial akibat tindakan teror terhadap golongan nan pro-republik. Hal ini memperlebar lembah perbedaan antara pendukung integrasi dengan NKRI dan golongan nan mau membentuk negara sendiri.
Situasi ini dimanfaatkan oleh Soumokil untuk menggalang support dari birokrat dan tokoh lokal, hingga akhirnya pada 25 April 1950 dia secara resmi memproklamasikan berdirinya RMS di Ambon.
Pemberontakan RMS ini menjadi salah satu beban psikologis bagi Belanda, karena mereka kudu menerima jejak personil KNIL nan akhirnya dibawa dan menetap di negeri Belanda.
Pada akhirnya, Presiden pertama RMS JH Manuhutu dan Perdana Menteri RIS Wairisal sukses ditangkap dan dijatuhi balasan penjara antara tiga hingga lima separuh tahun.
Agar peristiwa serupa tidak berulang, pemerintah RI juga menjatuhkan balasan tegas kepada sisa gerombolan RMS, apalagi balasan meninggal bagi beberapa tokoh utamanya.
Puncaknya, pada tahun 1962 Dr. Soumokil ditangkap, nan sekaligus menandai berakhirnya pemberontakan RMS di Indonesia.
Itulah penjelasan mengenai latar belakang pemberontakan DI TII dan RMS di Indonesia. Semoga bermanfaat dan selamat belajar!
(han/juh)
[Gambas:Video CNN]
6 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·