CNN Indonesia
Sabtu, 02 Mei 2026 19:10 WIB
PBB ungkap biaya nan digelontorkan AS untuk mendanai perang dengan Iran bisa penuhi seluruh sasaran support kemanusiaan PBB 2026. (Istockphoto/ Baona)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Koordinator Bantuan PBB Tom Fletcher mengungkapkan biaya nan digelontorkan Pentagon untuk mendanai perang dengan Iran sejak akhir Februari tahun ini diklaim bisa menutup seluruh sasaran support kemanusiaan PBB 2026.
Berdasarkan info Departemen Pertahanan AS, bentrok di Timur Tengah sejauh ini telah menelan biaya sebesar US$25 miliar alias setara Rp433,3 triliun (US$1=Rp17.334,35).
Tom Fletcher juga menyatakan biaya itu bisa menyelamatkan lebih dari 87 juta nyawa. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) sekarang sedang berjuang mengumpulkan biaya US$23 miliar untuk kebutuhan bantuan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tahu persis apa nan bisa kami lakukan dengan US$25 miliar itu," ujar Fletcher seperti diberitakan AFP pada Jumat (1/5).
Menurutnya, nomor nan dicari OCHA sebenarnya tidak sampai satu persen dari total shopping senjata dan pertahanan bumi tahun depan.
[Gambas:Video CNN]
Fletcher menjelaskan bahwa perang nan berujung pada penutupan Selat Hormuz ini telah memicu lonjakan nilai bahan bakar hingga dua kali lipat dan melambungkan nilai pangan 20 persen.
Kondisi itu disebut sebagai pukulan telak nan memperparah krisis kelaparan, terutama di Somalia. Di negara tersebut, jumlah penduduk nan menderita kelaparan sekarang meningkat dua kali lipat dibanding enam bulan lalu.
Secara global, Fletcher mencatat ada lebih dari 300 juta orang nan sangat memerlukan bantuan.
Namun, pemangkasan anggaran dari negara-negara donor, seperti Amerika Serikat memaksanya untuk memprioritaskan support hanya bagi 87 juta orang saja.
Tanpa kucuran biaya nan memadai, Fletcher memperingatkan bahwa ratusan juta nyawa terancam melayang dalam beberapa tahun ke depan.
Somalia menjadi salah satu wilayah nan paling terdampak akibat kombinasi "beracun" antara imbas perang, kekeringan, hingga banjir bandang.
Saat ini, program support PBB di Somalia baru mendapatkan dana 13 persen, nan memaksa penutupan sejumlah pusat kesehatan di tengah ancaman gizi jelek akut nan menghantui separuh juta anak.
Para master di sana melaporkan bahwa akibat kematian pasien meningkat tujuh kali lipat lantaran mereka kudu melangkah jauh lebih lama untuk mencapai klinik nan tetap beroperasi.
"Ini betul-betul situasi nan menghancurkan," ucap Fletcher.
(afp/chri)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·