Jakarta, CNN Indonesia --
Islam tidak hanya mengajarkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama, tetapi juga memberikan pedoman tentang tata langkah nan kudu diperhatikan ketika berkunjung.
Adab berjamu dalam Islam ini krusial agar silaturahmi nan dilakukan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman dari pemilik rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, mempunyai nilai jika dilakukan sesuai tuntunan. Begitu juga dengan aktivitas bertamu.
Apa nan terlihat sederhana ini rupanya mempunyai patokan tersendiri. Berikut etika berjamu dalam Islam untuk menjaga silaturahmi.
Dalam buku Buku Pintar 50 Adab Islam karya Arfiani, salah satu etika nan ditekankan adalah memenuhi undangan. Jika seorang muslim mengundang kita, maka sebaiknya kita berupaya datang selama di dalamnya tidak terdapat perihal nan dilarang agama.
Abu Hurairah ra berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk nan sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang nan bersin." (HR Bukhari dan Muslim)
2. Meminta izin dan menjaga tata krama
Sebelum masuk rumah orang lain, tamu dianjurkan untuk memperhatikan etika. Di antaranya memilih waktu nan tepat agar tidak mengganggu, mengetuk pintu dengan lembut, serta tidak berdiri tepat di depan pintu ketika mengetuk.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang nan beriman, janganlah Anda memasuki rumah nan bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. nan demikian itu lebih baik bagimu, agar Anda selalu ingat," (QS An-Nur ayat 27)
Setelah itu, ucapkan salam, tundukkan pandangan, dan sebutkan nama jika tuan rumah belum mengenal kita. Saat dipersilakan masuk, duduklah di tempat nan ditunjuk, tidak berbincang dengan bunyi keras, dan tidak terlalu banyak memperhatikan isi rumah.
3. Berterima kasih kepada tuan rumah
Ditambahkan dari laman Muhammadiyah, etika berjamu berikutnya adalah berterima kasih dan mendoakan tuan rumah.
Rasa terima kasih adalah corak penghargaan kepada pemilik rumah atas keramahan dan jamuan nan diberikan. Rasulullah Saw apalagi pernah mendoakan Abdullah bin Busr dan keluarganya setelah mereka menjamu beliau dengan makanan.
Selain, itu, Rasulullah Saw berfirman bahwa siapa nan tidak berterima kasih kepada manusia, maka dia tidak berterima kasih kepada Allah Swt.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ
Artinya: "Barang siapa nan tidak berterima kasih kepada manusia, berfaedah dia tidak berterima kasih kepada Allah." (HR Tirmidzi)
4. Menjaga etika makan dan minum
Ketika disuguhi makanan alias minuman, seorang tamu hendaknya tetap memperhatikan etika makan dalam Islam. Jangan menganggap sepele hanya lantaran tuan rumah adalah kerabat dekat alias sahabat akrab.
Salah satu etika nan perlu diperhatikan adalah untuk tidak memberikan kritik terhadap jamuan nan dihidangkan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
Artinya: "Dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Bila beliau berselera, maka beliau memakannya dan jika tidak suka, maka beliau meninggalkannya," (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)
5. Tidak memberatkan tuan rumah
Salah satu kesalahan nan sering terjadi adalah tamu terlalu lama tinggal tanpa memperhatikan kondisi tuan rumah. Padahal, tuan rumah mungkin merasa kesulitan alias mempunyai urusan lain, tetapi segan untuk menyampaikannya.
Karena itu, seorang tamu kudu peka membaca situasi. Rasulullah Saw berfirman sebagai berikut:
وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ
Artinya: "Tidak legal bagi tamu berlama-lama di tempat kunjungannya sehingga memberatkan tuan rumah." (HR Tirmidzi)
6. Menginap tidak lebih dari tiga hari
Apabila seorang tamu kudu menginap lantaran jarak perjalanan nan jauh, Islam menetapkan pemisah maksimal tiga hari. Rasulullah Saw menegaskan bahwa memuliakan tamu adalah kewajiban, tapi setelah tiga hari, selebihnya dianggap sebagai infak dari tuan rumah.
"Barang siapa beragama kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan berjamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah infak baginya, tidak legal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya." (HR Bukhari dan Muslim)
Batasan ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga keseimbangan antara tanggungjawab memuliakan tamu dan kewenangan tuan rumah untuk tetap tenang dalam menjalani kehidupan pribadinya.
Itulah sejumlah etika berjamu dalam Islam nan perlu Anda perhatikan. Semoga info ini berfaedah untukmu, ya.
(han/juh)
[Gambas:Video CNN]
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·