Gisella Keilsa | CNN Indonesia
Jumat, 20 Feb 2026 19:45 WIB
Review movie Train Dreams: Bentley dan Kwedar jelas menjadikan kereta api sebagai pengingat bahwa era terus bergerak maju dengan cepat, sementara ada nan tetap terjebak dalam siklus kenangan dan rasa kehilangan abadi. (Courtesy of Netflix)
Endro Priherdityo
Terlepas dari alurnya nan sangat lambat, Train Dreams adalah potret manusia nan sangat jujur.
Jakarta, CNN Indonesia --
Train Dreams menjadi kereta nan digunakan sutradara Clint Bentley untuk menyelami psikologis seseorang, sekaligus menggambarkan ironi mengorbankan alam nan dicinta atas nama kemajuan zaman.
Bentley nan mengangkat novella karya Denis Johnson rilisan 2011 ini berbareng Greg Kwedar membawa penonton ke sebuah perjalanan nan meditatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan itu menembus keelokan lanskap alam Amerika periode awal Abad 20 dan derita tak bersuara nan dialami karakter seorang pekerja kasar berjulukan Robert Grainier dan dimainkan oleh Joel Edgerton.
Bentley seolah mau menjadikan Train Dreams sebagai potret gimana seseorang menjalani hidup nan terus melangkah sementara batinnya tertinggal dalam duka tak terucap.
Namun ketika dirinya hanya bisa menemukan ketenangan di tengah rimba Pacific Northwest nyaris seluruh hidupnya, dia justru menyambung hidup dengan merusak alam demi kemajuan industri.
Bentley dan Kwedar jelas menjadikan kereta api sebagai pengingat bahwa era terus bergerak maju dengan cepat, sementara ada nan tetap terjebak dalam siklus kenangan dan rasa kehilangan abadi.
Dalam upaya membawa penonton menyelami kedalaman kompleksitas psikologis Robert Grainier, Bentley dan Kwedar menggunakan metode penuturan nan tidak linear dan terputus-putus.
Lewat alur tersebut, Bentley mau menegaskan gimana otak seseorang nan mengalami masalah psikologis kompleks, mempunyai kepingan-kepingan memori nan terdistorsi waktu.
Review movie Train Dreams: Bentley dan Kwedar jelas menjadikan kereta api sebagai pengingat bahwa era terus bergerak maju dengan cepat, sementara ada nan tetap terjebak dalam siklus kenangan dan rasa kehilangan abadi. (Courtesy of Netflix)
Meski ritmenya sengaja dibuat lambat dan meditatif, perihal tersebut justru memberi ruang bagi penonton untuk menyelami kondisi psikologis Robert nan traumatis.
Alur putus-putus dan transisi antar bagian nan digunakan Bentley memang mungkin membikin bingung sebagian penonton.
Namun justru pada saat itulah, Bentley terasa jujur secara emosional dengan mencampuradukkan realita dan mimpi melalui sinematografi surealis nan tetap terasa nyata alias dekat.
Dan Joel Edgerton sukses membawa visi Bentley tersebut dalam sosok Robert Grainier. Meski dialognya banget minim, Edgerton bisa menunjukkan kerapuhan karakternya dengan gestur tubuh nan kaku, langkah melangkah nan berat, dan tatapan mata nan kosong.
Sementara itu, karakter pendukung seperti William H. Macy sebagai Arn Peeples dan Paul Schneider sebagai Apostle Frank, memberikan kontras nan menarik dalam kehidupan kacau dan sunyi Robert Grainier.
Mereka memberikan dinamika sosial di letak kerja nan keras tersebut, dan dilengkapi dengan misteri hidup di kembali pribadi-pribadi bersorot mata capek itu.
Di sini, sejawat Robert itu digambarkan sebagai pria-pria handal nan hidupnya sering kali kosong dan hanya diisi oleh kelelahan bentuk ekstrem.
Lewat mereka pula, Bentley mengisahkan bentrok sosial berupa rasisme. Seperti nan dialami oleh seorang pekerja dari Asia nan tewas gegara dilempar ke lembah tanpa karena oleh sekelompok pekerja kulit putih.
Review movie Train Dreams: Train Dreams juga menyoroti realitas pahit pekerja kelas bawah nan membangun fondasi Amerika. (Courtesy of Netflix)
Train Dreams juga menyoroti realitas pahit pekerja kelas bawah nan membangun fondasi Amerika. Para penebang kayu dan pekerja rel dianggap sebagai tenaga kerja nan replaceable dan diabaikan dalam narasi besar kemajuan industri.
Segala kisah kelam tersebut dikawinkan oleh Bentley dengan lanskap alam nan bagus dalam kamera sinematografer Adolpho Veloso.
Keputusan Veloso menggunakan aspek rasio 3:2 demi membikin kesan visual nan intim, menjadikan menonton movie ini bagai memandang koleksi foto lama nan hidup. Sehingga, Train Dreams bagai album kenangan sejarah Amerika nan autentik.
Bryce Dessner dari band The National nan bertanggung jawab untuk urusan musik jelas memegang peran krusial dalam menguatkan atmosfer 'alam' di Train Dreams. Suara angin, gesekan rel besi, dan langkah kaki di tanah lembap dibuat sangat menonjol.
Detail audio ini disempurnakan oleh narasi bunyi dari Will Patton. Suaranya nan menenangkan sekaligus kuat menjadi penyeimbang nan menjaga penonton tetap terhubung dengan realitas Robert nan sunyi di tengah rimba belantara.
Terlepas dari alurnya nan sangat lambat, Train Dreams adalah potret manusia nan sangat jujur.
Clint Bentley sukses menunjukkan sejarah besar bumi tidak hanya dibangun oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh ribuan pengembara sunyi nan hidup dan matinya nyaris tidak meninggalkan jejak.
(end)
[Gambas:Video CNN]
11 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·