slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Siklus Hidrologi Air: Pengertian, Proses, Dan Fungsinya

Sedang Trending 10 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Siklus hidrologi adalah rangkaian berulang, bagaimana air bergerak di bumi dan kenapa sumber daya nan sangat krusial ini selalu tersedia bagi kita.

Tiap tahapannya mempunyai pengertian, proses, dan fungsinya masing-masing nan mendasar bagi keberlangsungan hidup. Mulai dari hujan nan membasahi tanah hingga air nan kembali ke atmosfer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siklus hidrologi alias siklus air merupakan jawaban untuk pertanyaan dari mana air hujan berasal dan gimana proses terbentuknya.

Proses tersebut disebut siklus hidrologi lantaran merupakan serangkaian peristiwa berkepanjangan di mana air bergerak dari bumi, menguap ke atmosfer, dan kemudian kembali lagi ke bumi secara terus-menerus.

Siklus ini melibatkan sembilan tahapan utama, ialah evaporasi, transpirasi, evapotranspirasi, sublimasi, kondensasi, adveksi, presipitasi, infiltrasi, serta aliran permukaan dan pengembalian ke lautan.

Pengertian siklus hidrologi

Melansir dari buku Hidrologi Terapan (2008) nan ditulis Bambang Triadmodjo, siklus hidrologi adalah sebuah proses pergerakan air dari bumi ke armosfer dan kembali lagi ke bumi nan berjalan secara kontinu.

Selain berjalan secara terus-menerus, siklus hidrologi juga merupakan siklus nan berkarakter konstan pada sembarang daerah.

Proses ini dimulai dengan terjadinya penguapan air ke udara. Air nan menguap tersebut kemudian mengalami proses kodensasi (penggumpalan) di udara nan kemudian membentuk gumpalan-gumpalan nan dikenal dengan istilah awan.

Awan nan terbentuk kemudian jatuh kembali ke bumi dalam corak hujan alias salju nan disebabkan oleh adanya perubahan suasana dan cuaca. Butiran-butiran air tersebut sebagian ada nan langsung masuk ke permukaan tanah (infiltrasi), dan sebagian mengalir sebagai aliran permukaan.

Aliran permukaan nan mengalir kemudian masuk ke dalam tampungan-tampungan seperti danau, waduk, dan cekungan tanah lain dan selanjutnya terulang kembali rangkaian siklus hidrologi.

Proses-proses dalam siklus hidrologi

Siklus hidrologi melibatkan serangkaian proses nan menggerakan air, meliputi evaporasi, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, aliran permukaan dan pengembalian ke lautan, dan lainnya. Berikut masing-masing penjelasannya, dikutip dari laman Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan sumber lainnya.

1. Evaporasi (penguapan)

Siklus hidrologi berasal dari evaporasi, ialah proses di mana air berubah menjadi uap dan naik ke atmosfer. Ini terjadi ketika daya mentari memanaskan air di beragam permukaan seperti lautan, danau, sungai, apalagi dari permukaan tanah dan tumbuhan.

Penguapan dari tumbuhan ini secara unik dikenal sebagai transpirasi. Semakin tinggi suhu, semakin banyak pula air nan menguap. Proses evaporasi ini sangat penting dalam menentukan jumlah uap air di atmosfer, dan dampaknya sangat besar terhadap pola cuaca serta suasana di suatu wilayah.

2. Transpirasi

Proses nan kedua adalah transpirasi, berupa penguapan nan terjadi melalui peranan tanaman. Proses ini dapat terjadi mengingat jumlah air hujan nan turun tidak sepenuhnya dapat mengalir, melainkan ada beberapa jumlah air hujan nan tertahan pada tanaman.

3. Evapotranspirasi

Evapotranspirasi merupakan campuran dari proses evaporasi dan transpirasi nan terjadi secara bersamaan.

Tahapan ini menjadi unsur nan sangat krusial dalam sebuah siklus hidrologi. Pasalnya, proses ini berbobot sama dengan kebutuhan air konsumtif nan didefinisikan sebagai penguapan total dari lahan dan air nan diperlukan tanaman.

4. Sublimasi

Sublimasi adalah proses perubahan es di kutub alias di puncak gunung menjadi uap air tanpa melalui fase cair terlebih dahulu. Proses ini juga berkedudukan dalam jumlah uap air nan terangkut ke atmosfer.

5. Kondensasi

Setelah uap air naik ke atmosfer, tahapan selanjutnya adalah kondensasi. Pada ketinggian tertentu, uap air ini mendingin dan berubah kembali menjadi tetesan air nan sangat kecil.

Tetesan-tetesan air inilah nan kemudian membentuk awan. Semakin rendah suhu di atmosfer, semakin mudah uap air ini mengembun. Tetesan air nan terbentuk di awan bakal terus berasosiasi dan menyatu, membikin awan semakin besar dan pekat.

Menariknya, partikel-partikel mini seperti debu alias polutan di udara juga bisa berkedudukan sebagai "inti" tempat tetesan air mulai terbentuk di sekitarnya.

6. Adveksi

Selanjutnya adalah adveksi nan menjadi proses perpindahan awan dari satu titik ke titik lain dalam suatu mendatar akibat arus angin alias perbedaan tekanan udara.

Adveksi memungkinkan awan bakal menyebar dan beranjak dari atmosfer lautan menuju atmosfer daratan.

7. Presipitasi (hujan, salju, alias es)

Ketika tetesan air dalam awan menjadi terlalu banyak dan berat untuk tetap melayang di udara, terjadilah presipitasi. Bentuk presipitasi ini berjuntai pada suhu udara di sekitarnya.

Di wilayah tropis seperti Indonesia, hujan adalah corak presipitasi nan paling umum. Namun, di wilayah dengan suhu nan lebih dingin, presipitasi bisa turun dalam corak salju alias apalagi es (hujan es).

Intinya, presipitasi adalah langkah air kembali ke permukaan Bumi dari atmosfer.

8. Infiltrasi dan perkolasi

Sesampainya air di permukaan Bumi melalui presipitasi, sebagian dari air tersebut bakal meresap ke dalam tanah. Proses peresapan ini disebut infiltrasi.

Air nan meresap ini kemudian mengisi persediaan air di bawah tanah nan disebut akuifer, nan merupakan sumber krusial bagi sumur-sumur dan mata air alami.

Proses penyelundupan ini sangat vital bagi kesehatan ekosistem darat, lantaran tanah berfaedah sebagai penyimpan dan penyaring air, sebelum air tersebut diserap oleh tanaman dan digunakan oleh beragam makhluk hidup.

9. Aliran permukaan dan pengembalian ke lautan

Tidak semua air hujan terserap ke dalam tanah, karena sebagian lainnya bakal mengalir di permukaan tanah sebagai aliran permukaan.

Aliran ini kemudian berkumpul, membentuk sungai, danau, alias waduk. Akhirnya, sungai-sungai ini bakal mengalir menuju lautan, mengembalikan air ke kediaman asalnya. Di sinilah siklus hidrologi kembali dimulai dari awal.

Aliran permukaan ini mempunyai peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem air tawar dan bertindak sebagai penghubung antara beragam bagian ekosistem, dari wilayah hulu pegunungan hingga hilir di pesisir.

Fungsi krusial siklus hidrologi

Tanpa siklus hidrologi, kesiapan air di bumi tidak bakal merata. Bayangkan, wilayah dengan curah hujan tinggi menerima air langsung dari presipitasi, sedangkan wilayah kering sangat berjuntai pada persediaan air bawah tanah nan terus terisi melalui proses infiltrasi.

Ini menunjukkan gimana siklus hidrologi memastikan pengedaran air, meskipun tidak selalu seragam, untuk mendukung kehidupan di beragam bagian dunia.

Lebih dari itu, siklus air juga memainkan peran krusial dalam mengatur suasana dan cuaca global. Proses evaporasi dari lautan adalah pemasok utama kelembapan nan kemudian membentuk angin besar dan hujan di seluruh dunia.

Awan, nan terbentuk dari kondensasi, punya kegunaan dobel dalam mengelola suhu Bumi, yakni memantulkan sebagian daya mentari kembali ke luar angkasa.

Selain itu, mencegah pemanasan berlebih, sekaligus memerangkap panas nan dipancarkan dari permukaan bumi, membantu menjaga suhu agar tetap stabil.

Demikian penjelasan mengenai siklus hidrologi, pengertian, proses, dan fungsinya. Selamat belajar!

(gas/juh)

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru