Anagatha Kilan | CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 17:30 WIB
Kawasan Blok M di Jakarta Selatan nan selalu ramai pengunjung. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Blok M hari ini menjadi area sentral di area Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Keberadaannya sekarang tak lepas dari jahitan sejarah panjang nan terjadi di Kebayoran, mulai dari mimpi menjadi kota satelit hingga berhujung dengan potongan "blok" lain nan sudah tak ada lagi di peta.
Di kembali hiruk-pikuk Blok M sekarang, dulu wilayah ini hanyalah satu bagian dari sejumlah blok lain di Kebayoran. Artinya, dia tidak sendiri saat pertama kali menghuni tanah Kebayoran, ada Blok A, Blok B, Blok C, dan blok-blok lain.
Lembaran sejarah nan mengisahkan asal-usul Blok M ini dimulai pada era Hindia Belanda. Saat itu, Batavia (sekarang Jakarta) di tahun 1938 mau mempunyai kota satelit pertama. Singkat cerita, kota satelit ini tetap sebatas struktur rancangan kota hingga Indonesia merdeka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mimpi Kota Satelit dengan 19 Unit "Blok"
Sejarawan Jakarta Andi Achdian menjelaskan, di tahun 1948 kembali dibuka niat lama itu untuk membangun kota satelit di lantaran Jakarta mengalami ledakan penduduk. Ingin membangun pemukiman baru berkonsep "Garden City", akhirnya rancangan kota satelit Kebayoran dibuat oleh Moh Soesilo.
Mimpi awalnya, Soesilo merancang kota satelit ini sebagai area pemukiman hijau nan terintegrasi, dari segi tempat tinggal, transportasi, hingga pemerintahan. Unit kediaman di Kebayoran disebut "Blok", Soesilo membagi area tersebut menjadi Blok A sampai Blok S.
"Kebayoran itu merupakan sebuah wilayah nan strukturnya memang dibangun blok per blok. Itu struktur nan dibangun oleh Soesilo saat itu sebagai arsitek untuk membayangkan sebuah kota satelit nan bisa menopang pemerintahan Republik Indonesia saat itu," kata Andi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).
Namun, mengutip beberapa studi, Kebayoran tidak berhujung seperti kota satelit nan direncanakan. Jakarta nan semakin berkembang pesat, ikut menyeret Kebayoran menjadi mirip seperti area lainnya di ibu kota. Banyak gedung rumah nan berubah kegunaan menjadi tempat usaha, lama-lama semakin tidak terkendali.
Hilangnya Blok-blok Lain dari Peta
Perubahan ini membikin Kebayoran Baru semakin melenceng jauh dari rencana awal kota satelit. Memasuki masa Orde Baru, semakin banyak perubahan. Penggunaan "Blok" sebagai nama wilayah juga dinilai tidak fungsional, terlebih lagi banyak jalan dan area baru nan dibangun di Jakarta.
"Itu perubahan nan terjadi pada masa Orde Baru, kan ada pembangunan lain-lain. Blok-blok itu dihapus lantaran mungkin enggak fungsional saat itu. Lalu juga kan ada penamaan nama-nama baru ya sejak Orde Baru, pakai nama pahlawan-pahlawan. Jadi ada politik penamaan baru nan mengubah nama lama," lanjut Kaprodi Sosiologi FISIP Universitas Nasional (UNAS).
Andi juga menyoroti, penamaan wilayah juga bakal berkembang sesuai dengan perkembangan sosial dan politik. Akhirnya, pembagian wilayah Kebayoran Baru tidak lagi menggunakan penamaan blok, sekarang sudah berganti dengan nama lain seperti Melawai, Barito, Dharmawangsa, Senopati hingga Gandaria.
Alasan Blok M Tidak Berubah Nama
Dari 19 blok alfabet, nan tetap tersisa hingga hari ini adalah Blok A, Blok M, dan Blok S. Bukan lantaran wilayah ini lebih spesial sehingga tidak berubah nama, melainkan tiga wilayah itu tetap melangkah dengan kegunaan awalnya dan masyarakat telah melekat dengan penggunaan nama tersebut.
Sebagai contoh, Blok A dan Blok S nan hingga hari ini tetap berfaedah sebagai area pemukiman, sedangkan blok-blok lain sudah ada peralihan kegunaan sehingga berganti nama. Lalu gimana dengan Blok M?
Sejak dulu di awal pembuatan kota satelit, Blok M sudah berada di pusat rancangan kota nan berbentuk trapesium tersebut. Kawasan ini adalah sentralnya Kebayoran, dirancang sebagai Hub. Sampai hari ini, Blok M tetap menjadi Hub nan dituju oleh masyarakat.
"Blok M dirancang sebagai satu hub-nya, coba jika kita lihat peta Kebayoran, Blok M itu ada di tengah-tengah. Di situ ada area pemukiman, niaga, dan transportasi. Maka saya kira itu nan bikin Blok M bisa memperkuat kuat, lantaran fungsinya sebagai hub," terang Andi.
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·