slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Studi Temukan 60 Persen Makanan Kemasan Di Ri Masuk Nutri-level D

Sedang Trending 2 jam yang lalu

CNN Indonesia

Kamis, 30 Apr 2026 18:15 WIB

Studi teranyar dari CISDI menemukan, lebih dari 60 persen makanan masuk kategori nutri-level D. Artinya, banyak makanan bungkusan tinggi gula, garam, dan lemak. Ilustrasi. Studi teranyar dari CISDI menemukan, lebih dari 60 persen makanan masuk kategori nutri-level D. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Jakarta, CNN Indonesia --

Studi teranyar dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) menemukan, lebih dari 60 persen makanan masuk kategori nutri-Level D. Artinya, banyak makanan bungkusan nan terbukti tinggi gula, garam, dan lemak.

Melansir detikhealth, hasil ini didapatkan dari kajian 8.077 sampel di beragam kota besar, termasuk DKI Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi dilakukan dengan pengetesan model profil gizi (nutrient profile models/NPM) berbareng Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) di Universitas Airlangga.

Peneliti membandingkan hasil temuannya dengan penilaian nutri-level. Istilah terakhir merupakan kebijakan baru pengelompokan makanan bungkusan hingga siap saji berasas level A, B, C, dan D.Pengelompokan dilihat dari kandungan gula, garam, dan lemak di dalam makanan. Level A dikategorikan paling sehat, sementara level D sebaliknya.

"Hanya sekitar 73 persen produk nan dinilai tidak sehat," lapor CISDI.

Rinciannya, 64,2 persen masuk dalam kategori level D namalain tinggi gula, garam, dan lemak. Sementara sisanya sebanyak 11,4 persen masuk ke dalam level C.

Health Economics Research Associate CISDI Muhammad Zulfiqar Firdaus mengatakan, peredaran makanan bungkusan nan tidak sehat dapat mendorong akibat penyakit tidak menular, termasuk obesitas.

"Temuan ini menegaskan masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan pangan nan telah didominasi produk tinggi gula, garam, dan lemak. Ini bukan lagi soal edukasi individu, tapi soal kreasi sistem nan perlu diperbaiki," ujar Zulfiqar dalam keterangan resminya, Kamis (30/4).

CISDI sendiri menilai, sebagian besar produk makanan bungkusan nan masuk kategori C sebenarnya telah melampaui pemisah gula, garam, dan lemak nan aman. Hanya saja, nutri-level kategori C tetap dianggap relatif kondusif oleh konsumen.

(asr)

Add as a preferred
source on Google

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru