Tiara Sutari | CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 18:15 WIB
Ilustrasi. Pembacaan ramalan melalui medium tarot kian populer. (miradeshazer/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak semua orang datang ke tarot untuk mencari jawaban tentang masa depan. Sebagian justru datang dengan kebingungan nan tak selesai dirangkai menjadi kalimat, tentang pekerjaan nan tak kunjung pasti, relasi nan menggantung, alias sekadar emosi nan susah dijelaskan.
Di situlah Judith, sang tarot reader biasanya memulai.
Di hadapannya, bukan sekadar setumpuk kartu, melainkan cerita-cerita nan perlahan dibuka. Ia mendengarkan, lampau membaca, bukan untuk menentukan apa nan bakal terjadi, melainkan mencoba memahami apa nan sedang berlangsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salam kenal, saya Judith," ujarnya ringan.
Sudah lebih dari satu dasawarsa Judith alias nan mempunyai nama komplit Putri Nataningrat menggeluti bumi tarot. Bukan lewat kursus panjang alias training formal, melainkan seperti sesuatu nan 'jatuh begitu saja' dalam dirinya. Ia menyebutnya sebagai warisan dari sang kakek, keahlian membaca simbol nan terasa datang secara alami, tanpa perlu dipelajari secara konvensional.
Namun, langkah Judith memandang tarot jauh dari kesan misterius nan selama ini melekat. Baginya, tarot bukan tentang perdukunan atau ramalan mutlak. Ia lebih melihatnya sebagai bahasa simbol, langkah manusia berbincang dengan dirinya sendiri.
"Manusia itu punya kecenderungan mau tahu masa depan. Tapi tarot ini bukan soal klenik. Lebih ke psikologis," katanya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, di suatu sore nan cukup panas di Jakarta.
Di tangan Judith, tarot bukan perangkat untuk 'menentukan nasib'. Ia menolak dugaan bahwa tarot bisa mengubah takdir seseorang.
"Aku selalu bilang ke klien, saya enggak bisa mengubah kenyataan. Kalau mau sukses, ya kudu cari cara. Tarot itu hanya menuntun," ujarnya.
Pendekatan ini membikin sesi tarot nan dia lakukan terasa lebih seperti ruang obrolan daripada pembacaan satu arah. Ia tak memberi jawaban manis semata. Justru, dia membujuk pengguna memandang pola dalam hidup mereka, apa nan keliru, apa nan perlu diperbaiki.
Baginya, kartu-kartu itu hanya pintu masuk. nan bekerja sebenarnya adalah percakapan.
Intuisi nan diasah, bukan dirapal
Berbeda dari stereotip umum, Judith tak mempunyai ritual unik sebelum membaca tarot. Namun, dia mengaku perlu rutin membaca untuk orang lain agar intuisinya tetap tajam.
"Kalau terlalu lama enggak baca, rasanya intuisi jadi tumpul. Jadi sebulan minimal satu-dua kali kudu tetap baca," katanya.
Ia menggambarkan daya dalam dirinya seperti sesuatu nan perlu disalurkan. Jika tidak, justru menjadi tidak seimbang.
Namun, pekerjaan ini bukan tanpa tantangan. Salah satu nan paling menguras daya adalah ketika berhadapan dengan pengguna nan hanya mau mendengar hal-hal nan menyenangkan.
"Padahal tarot itu enggak kerja begitu. Aku baca sesuai pesan nan muncul. Kalau mereka ngeyel, itu nan bikin capek," katanya.
Setiap sesi, kata Judith, selalu meninggalkan jejak. Ia mengingat gimana klien-kliennya kembali beberapa bulan kemudian, membawa kabar.
"Ada nan bilang, 'Kak, waktu itu kakak bilang saya bakal dapat kerja, sekarang keterima.' Atau cerita soal finansial nan membaik," ujarnya.
Tak semua pengalaman ringan. Pernah suatu kali dia kudu membaca dinamika dalam satu lingkar pertemanan nan melibatkan banyak orang.
"Aku kudu 'masuk' ke daya masing-masing. Itu capek banget, tapi seru," katanya.
Di situlah pemisah ahli dan emosional menjadi penting. Judith menjaga jarak dengan tidak meminta perincian berlebihan dari klien.
"Aku cukup tahu gambaran besarnya saja. Enggak perlu semua diceritakan," katanya.
Baca cerita tarot selanjutnya..
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·