slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Viral 'educate Your Son' Di Medsos, Psikolog Soroti Pola Asuh Keluarga

Sedang Trending 2 hari yang lalu

CNN Indonesia

Rabu, 15 Apr 2026 20:45 WIB

Template "Educate Your Son" menyeruak usai kasus pelecehan di UI, psikolog soroti pola asuh orang tua dalam membentuk langkah pandang laki-laki terhadap perempuan. Ilustrasi. Template "Educate Your Son" menyeruak usai kasus pelecehan di UI, psikolog soroti pola asuh orang tua dalam membentuk langkah pandang laki-laki terhadap perempuan. (Istockphoto/Coldsnowstorm)

Jakarta, CNN Indonesia --

Ramainya template "Educate your son" di media sosial usai kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus kembali mengingatkan peran pola asuh dalam membentuk langkah pandang laki-laki terhadap perempuan.

Psikolog anak dan keluarga, Mira Amir menegaskan bahwa family menjadi fondasi utama dalam membentuk nilai dan perilaku anak termasuk soal sikap sikap terhadap musuh jenis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dampaknya besar dan signifikan. Terutama gimana kita memperlakukan orang lain dalam kehidupan kita, itu kan tumbuhnya dari keluarga. Dari kedua orang tua," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).

Menurutnya, sikap seksis tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari pola hubungan nan dialami anak sejak kecil.

"Apakah orang tuanya cukup mencontohkan lantaran perilaku seksis ini kan juga tumbuhnya dari diskriminatif. Apakah orang tuanya percaya sudah memperlakukan anaknya dengan penuh penghargaan, mencintai tanpa syarat, dan bertindak adil?" ujarnya.

Ia menambahkan, bentuk-bentuk mini dalam pola asuh nan sering dianggap sepele justru bisa berakibat besar jika dilakukan berulang.

"Ketika mereka nggak diperlakukan secara tepat, nggak dihargai. Banyak orang tua nan men-judge, menghakimi, menganggap rendah pencapaian anak," katanya.

Menurut Mira, perilaku seperti membandingkan anak alias meremehkan upaya mereka bukan hanya berakibat emosional, tetapi juga berpotensi membentuk langkah pandang nan bermasalah saat dewasa.

Ia apalagi menekankan bahwa tindakan seperti membandingkan anak sudah termasuk corak kekerasan secara psikologis.

"Membandingkan anak itu udah termasuk kekerasan terhadap anak. Bukan arti dari saya, dari UU sendiri. Karena itu memang bisa sebegitu menyakitkannya gitu," lanjutnya.

Selain itu, Mira menilai bahwa membentuk anak laki-laki agar tidak bersikap seksis tidak cukup hanya dengan nasihat verbal. Orang tua kudu memberikan contoh nyata dalam keseharian.

"Itu adalah gini, jika kita mau educate anak itu nggak cukup bilang 'eh nak lo jangan seksis ya' tapi Anda memperlakukan anakmu gimana? Bisa terima mereka nggak?" katanya.

Ia menegaskan, pola perlakuan orang tua sehari-hari justru menjadi aspek krusial dalam membentuk perihal tersebut.

Mira juga mengingatkan bahwa perilaku seksis nan muncul pada usia dewasa merupakan hasil dari proses panjang sejak masa kanak-kanak.

Ia menekankan pentingnya pertimbangan pola komunikasi dan nilai nan ditanamkan sejak anak tetap kecil.

"Coba dievaluasi lagi gimana orang tua menanamkan nilai-nilai sikap, pola komunikasi dengan anak ketika dari dia mini gitu. Dari umur 4 tahun, 5 tahun, 6 tahun bahasa apa nan kita sering lontarkan pada si anak. Itu nan tertanam," katanya.

Menurutnya, apa nan terlihat hari ini pada anak usia dewasa merupakan refleksi dari pola asuh di masa lalu.

Kemunculan template "educate your son" di media sosial semestinya tidak berakhir pada ungkapan semata, tetapi menjadi refleksi bagi orang tua untuk memperbaiki pola asuh terhadap anak laki-lakinya sejak dini.

(nga/fef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru