CNN Indonesia
Selasa, 14 Apr 2026 11:15 WIB
Ilustrasi. Daging monyet rawan untuk kesehatan manusia. (AFP/GUILLAUME SOUVANT)
Jakarta, CNN Indonesia --
Konten di media sosial nan menampilkan orang mengonsumsi daging monyet belakangan memicu rasa penasaran publik.
Bagi sebagian orang, tayangan semacam ini mungkin terlihat ekstrem alias tidak lazim. Namun, dari perspektif pandang kesehatan, persoalannya jauh lebih serius daripada sekadar viral.
Risiko makan daging monyet tidak hanya terletak pada daging nan dikonsumsi, tetapi juga pada seluruh proses sebelum daging itu sampai ke piring, mulai dari diburu, disembelih, dibersihkan, hingga diolah. Karena monyet termasuk primata non-manusia nan secara biologis dekat dengan manusia, kesempatan perpindahan patogen dinilai lebih tinggi dibandingkan banyak satwa lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut tiga akibat utama nan perlu dipahami:
1. Risiko jangkitan saluran cerna dan parasit
Penelitian pada monyet liar di Indonesia menunjukkan bahwa primata dapat membawa beragam parasit zoonotik, ialah parasit nan berpotensi menular ke manusia.
Studi pada monyet ekor panjang di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, menemukan bahwa 89 persen dari 100 sampel feses positif mengandung parasit gastrointestinal. Seluruh parasit nan teridentifikasi juga dinilai mempunyai kepentingan zoonotik.
Temuan serupa muncul dalam studi di Aceh. Penelitian tersebut melaporkan tingginya prevalensi parasit gastrointestinal pada monyet ekor panjang di area ekowisata, termasuk jenis zoonotik seperti Oesophagostomum bifurcum dan Trichuris trichiura.
Artinya, jika proses penyembelihan tidak higienis, daging tidak matang sempurna, alias terjadi kontaminasi silang saat pengolahan, maka akibat paparan parasit dan jangkitan saluran cerna dapat meningkat.
2. Risiko penularan penyakit dari darah dan cairan tubuh
Bahaya tidak selalu muncul saat daging dimakan. Justru, tahap berburu, menyembelih, memotong, dan membersihkan hewan menjadi titik nan sangat berisiko lantaran memungkinkan kontak langsung dengan darah, organ, dan cairan tubuh hewan.
Centers for Disease Control and Prevention menyebut bushmeat alias daging satwa liar, termasuk primata nonmanusia, dapat membawa akibat penyakit menular. Lembaga ini juga menekankan bahwa daging satwa liar kerap dikonsumsi dalam keadaan mentah alias hanya diproses minimal, sehingga meningkatkan potensi paparan patogen.
Dalam konteks penyakit menular, fase penanganan awal ini krusial lantaran dapat menjadi jalur perpindahan patogen dari hewan ke manusia, apalagi sebelum daging itu dikonsumsi.
Karena itu, persoalannya bukan semata kondusif alias tidak dimakan, melainkan juga gimana hewan tersebut ditangani sejak awal.
3. Risiko kesehatan publik nan lebih luas
Konsumsi dan penanganan primata liar bukan hanya berisiko bagi perseorangan nan makan alias mengolahnya, tetapi juga membuka kesempatan spillover alias penularan lintas spesies.
Inilah nan membikin rumor daging monyet tidak bisa dilihat semata sebagai soal selera makan, melainkan juga persoalan kesehatan masyarakat.
World Health Organization menegaskan bahwa zoonosis, penyakit nan menular dari hewan ke manusia dapat menyebar melalui kontak langsung maupun melalui makanan, air, alias lingkungan. WHO juga menyebut zoonosis sebagai masalah kesehatan publik besar di seluruh dunia.
Dengan kata lain, akibat makan daging monyet bukan hanya soal "habis dimakan lampau sakit", tetapi juga soal gimana hewan itu diburu, dibersihkan, dipotong, dan diolah, serta gimana praktik tersebut dapat membuka kesempatan penularan penyakit nan lebih luas.
Karena itu, viralnya konten makan daging monyet di media sosial sebaiknya tidak dilihat hanya sebagai tontonan ekstrem. Di kembali unsur sensasinya, ada akibat kesehatan nan nyata, mulai dari jangkitan saluran cerna, paparan parasit zoonotik, hingga ancaman penularan lintas spesies.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·