Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyampaikan sejumlah perihal nan sebaiknya dimiliki oleh pemimpin di daerah. Salah satunya, ideologi nan kuat, serta strategi nan terarah dalam menjalankan pemerintahan.
Hal itu disampaikan Bima saat menghadiri kuliah umum di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), Kota Medan, Kamis (30/4/2026). Ia mengatakan, pandangan tersebut merupakan refleksi dari pengalaman pribadinya selama memimpin daerah.
Menurutnya, seorang pemimpin perlu mempunyai ideologi pembangunan nan jelas, ialah pembangunan nan ramah lingkungan, berkelanjutan, serta inklusif. Dengan demikian, setiap kebijakan nan diambil tidak hanya menyelesaikan masalah jangka pendek, tetapi juga menjaga keberlanjutan di masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pemimpin itu kudu punya ideologi. Harus punya pemikiran nan paling mendasar tentang nilai nan diyakini. Kalau enggak maka pemimpin itu bakal terombang-ambing," kata Bima.
Ideologi itu disebut Bima menjadi pedoman dalam menghadapi beragam persoalan selama dirinya menjabat sebagai Wali Kota Bogor. Ia mengingatkan, ideologi saja tidak cukup. Nilai tersebut kudu diturunkan ke dalam strategi nan konkret agar masyarakat mendapatkan manfaatnya.
"Pemimpin itu kan adalah pemasok harapan. Kalau angan itu enggak dipenuhi, selesai pemimpin itu. Karena itu istilah saya adalah mencicil harapan," ujarnya.
Hal lain nan juga penting, lanjut Bima, adalah keahlian pemimpin mengelola beragam kepentingan dengan tetap berpegang pada nilai nan diyakini.
"Menjadi pemimpin itu kudu punya periode batas. Sejauh mana kita punya toleransi terhadap hal-hal nan tidak sesuai dengan hati nurani dan nilai," tutur Bima.
Selanjutnya, adalah membangun support dari beragam lapisan, mulai dari masyarakat, kelas menengah, hingga jejeran pemerintahan. Menurutnya, keahlian menjangkau seluruh lapisan tersebut menjadi kunci keberhasilan dalam menjalankan program pembangunan.
Lebih lanjut, Bima menekankan bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak terlepas dari soliditas tim birokrasi. Ia menyebut pemimpin kudu bisa memahami karakter aparatur, serta membangun semangat kerja nan kolektif.
Adapun ketegasan tetap diperlukan dalam situasi tertentu demi menjaga prinsip dan memastikan jalannya pemerintahan secara efektif.
"Poin nan mau saya sampaikan adalah, bagi seorang pemimpin, ada waktunya untuk menjadi kakak, menjadi adik, menjadi teman. Tapi ada saatnya untuk menjadi bapak nan tegas dan tega. Pemimpin itu sebaik-baik pun tetap kudu punya killer instinct. Harus tega demi satu prinsip. Harus berani demi nilai-nilai nan diyakini," pungkas Bima.
Pada kuliah umum tersebut, Bima berambisi generasi muda, khususnya mahasiswa, dapat memahami bahwa kepemimpinan adalah tentang nilai, strategi, dan keberanian dalam mengambil keputusan demi kepentingan nan lebih luas.
(rea/rir)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·