CNN Indonesia
Kamis, 26 Feb 2026 07:15 WIB
Ilustrasi otak manusia. (Allan Ajifo/Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seiring bertambahnya usia, otak manusia secara alami bakal mengalami penyusutan alias dalam istilah medis disebut sebagai atrofi serebri. Meski merupakan proses alamiah, penurunan kegunaan kognitif dan motorik ini rupanya bisa terjadi jauh lebih sigap akibat style hidup nan salah.
Spesialis Bedah Saraf, dr. Dimas Rahman Setiawan, SpBS, mengungkapkan bahwa kebiasaan sehari-hari nan sering dianggap remeh justru menjadi pemicu utama otak kehilangan volumenya lebih dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut adalah tiga kebiasaan nan wajib Anda waspadai agar kesehatan otak tetap terjaga:
1. Pola Makan "Asal Kenyang"
Banyak orang Indonesia tetap terjebak pada prinsip makan asalkan perut terasa penuh, tanpa memedulikan kandungan nutrisinya. dr. Dimas menyoroti kekuasaan karbohidrat (seperti nasi berlebih) nan sering kali tidak dibarengi dengan asupan protein nan cukup.
"Nutrisi nan baik adalah nutrisi nan seimbang. Di Indonesia, seringkali karbohidratnya terlalu banyak, sementara proteinnya kurang," ujar dr. Dimas, seperti dikutip Detik.
Tanpa asupan protein dan mikronutrisi nan seimbang, otak tidak mendapatkan "bahan bakar" nan diperlukan untuk regenerasi sel dan menjaga fungsinya tetap optimal.
2. Gaya Hidup 'Mager'
Kurang melakukan aktivitas bentuk alias nan terkenal dengan istilah "mager" rupanya berakibat langsung pada otak. dr. Dimas menjelaskan bahwa olahraga bukan hanya soal membentuk otot, tapi juga membantu proses penyerapan nutrisi ke otak.
Saat tubuh aktif bergerak, sirkulasi darah meningkat, sehingga oksigen dan nutrisi dari makanan dapat terserap secara maksimal oleh saraf-saraf otak. Dengan aktif bergerak, akibat penciutan otak nan terlalu sigap dapat diminimalkan.
3. Berhenti Berpikir dan Menarik Diri dari Sosial
Faktor ini sering menyerang golongan usia 40 hingga 50 tahun ke atas. Adanya dugaan bahwa "sudah tua tidak perlu banyak kegiatan" justru menjadi bumerang bagi kesehatan otak.
Otak seumpama otot; jika tidak dilatih dan digunakan, dia bakal "menciut". dr. Dimas menekankan pentingnya mempunyai aktivitas harian, baik itu bekerja, menjalankan hobi, maupun terlibat dalam aktivitas sosial.
"Tidak beraktivitas menyebabkan manusia tidak biasa berpikir, sehingga lama-kelamaan volume otaknya mulai mengecil," jelasnya.
Ia menyarankan agar masyarakat tetap aktif di lingkungan komunitas, seperti aktivitas keagamaan (pengajian alias gereja), organisasi kemasyarakatan (PKK alias Posyandu), dan menjalani kegemaran nan menuntut konsentrasi.
Menjaga kesehatan otak tidak kudu dimulai dengan prosedur medis nan rumit. Dengan memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, dan tetap aktif bersosialisasi, Anda bisa memberikan perlindungan terbaik bagi otak dari akibat penuaan dini.
(wiw)
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·