Jakarta, CNN Indonesia --
Ramadhan merupakan bulan nan selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan inilah umat Islam memperoleh kesempatan nan sangat berbobot untuk meningkatkan kualitas ibadah, melakukan introspeksi diri, serta mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Tidak hanya menjalankan ibadah wajib seperti puasa dan sholat lima waktu, salah satu aktivitas nan kerap mewarnai suasana Ramadhan adalah penyampaian tausiyah alias kultum Ramadhan singkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kultum di bulan Ramadhan biasanya disampaikan sebelum alias sesudah sholat tarawih. Dengan adanya kultum di bulan Ramadhan, umat Islam diingatkan kembali tentang pentingnya menjaga keimanan, memperbaiki akhlak, serta memaksimalkan setiap detik di bulan suci agar tidak terlewat sia-sia.
Banyak masjid, majelis taklim, hingga lingkungan family mengisinya dengan tausiyah alias kuliah tujuh menit. Karena itulah, kebutuhan bakal kultum Ramadhan singkat nan padat, jelas, dan menyentuh hati semakin meningkat setiap tahunnya.
Secara umum, kultum adalah kependekan dari kuliah tujuh menit. Namun dalam praktiknya, lama kultum Ramadhan singkat bisa lebih fleksibel, mulai dari 1 menit, 3 menit, hingga 5 menit.
Hal ini tidak menjadi persoalan, karena nan terpenting bukanlah lamanya waktu penyampaian, melainkan nilai pengetahuan dan hikmah nan disampaikan. Dikutip dari NU Online, berikut contoh kultum nan dapat menjadi referensi pidato singkat selama bulan suci Ramadhan.
Kultum Ramadhan 1: Dua tanda puasa Ramadhan diterima oleh Allah SWT
Assalamu'alaikum wr.wb.Bismillahirrahmanirrahim.Segala puji bagi Allah SWT nan tetap mempertemukan kita dengan bulan penuh rahmat ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Jamaah nan dirahmati Allah, angan terbesar kita saat menjalankan puasa Ramadhan adalah agar seluruh jerih payah dan kesungguhan ibadah diterima oleh Allah SWT. Hal ini wajar, lantaran puasa merupakan ibadah nan menuntut kesabaran, pengendalian hawa nafsu, serta keikhlasan nan mendalam.
Puasa, jamaah sekalian, bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga semata. Kita juga diperintahkan menahan diri dari perkara-perkara nan sebenarnya halal, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga mentari terbenam.
Lebih dari itu, kualitas puasa sangat ditentukan oleh kejujuran niat, ketulusan hati, serta keahlian menjaga diri dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, diterima alias tidaknya puasa di sisi Allah menjadi perkara nan sangat krusial untuk kita renungkan.
Puasa mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah lainnya, lantaran penilaian dan pahalanya sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT. Tidak ada seorang pun nan bisa memastikan puasanya diterima, selain Allah semata.
Sebaliknya, jamaah nan dimuliakan Allah, kondisi ketika puasa tidak diterima merupakan perihal nan patut kita takutkan. Bayangkan jika sejak adzan Subuh hingga adzan Maghrib seluruh upaya kita justru berhujung sia-sia.
Bahkan bisa jadi puasa nan kita jalani tidak berbobot apa-apa di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita melalui sabdanya berikut ini:كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya, "Begitu banyak seseorang nan sedang berpuasa hanya menyisakan lapar dan haus," (HR. Imam Ibnu Majah).
Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang bisa saja berpuasa, namun tidak mendapatkan pahala selain rasa lapar dan dahaga. Sejak awal Ramadhan, kita semestinya menyadari kemungkinan ini agar lebih menjaga kualitas ibadah.
Bisa jadi, peringatan Rasulullah SAW tersebut tertuju kepada diri kita andaikan kita lalai dalam menjaga etika dan ruh puasa. Namun demikian, para ustadz telah menjelaskan adanya tanda-tanda nan dapat menjadi indikasi diterimanya puasa seseorang.
Walaupun keputusan akhir tetap menjadi kewenangan Allah SWT sepenuhnya, tanda-tanda ini dapat kita jadikan bahan muhasabah diri. Dengan muhasabah tersebut, kita diharapkan bisa memperbaiki kualitas ibadah di masa mendatang.
Jamaah sekalian, salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan adalah terbiasanya seseorang melanjutkan puasa di bulan Syawal. Puasa enam hari di bulan Syawal, mulai hari kedua hingga ketujuh, mempunyai keistimewaan besar nan disamakan dengan pahala puasa setahun penuh.
Selain meraih keistimewaan tersebut, konsistensi melaksanakan puasa Syawal menjadi isyarat bahwa Ramadhan betul-betul memberi pengaruh positif dalam diri kita. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah Ramadhan tidak berhenti, tetapi bersambung setelahnya.
Tanda berikutnya adalah munculnya komitmen kuat dalam hati untuk tidak kembali melakukan maksiat. Inilah prinsip taubat nan sejati dan tujuan utama dari ibadah Ramadhan.
Seharusnya, seluruh ibadah nan kita lakukan selama Ramadhan melangkah seiring dengan tekad menjauhi dosa. Namun andaikan hati tetap condong untuk kembali bermaksiat, maka kondisi tersebut patut kita waspadai.
Walaupun secara lahiriah seseorang terlihat giat beribadah, tetapi jika hatinya tetap terikat pada dosa, maka ibadah itu terancam tidak diterima. Hal ini juga bertindak dalam ibadah puasa Ramadhan.
Seorang Muslim perlu mempunyai keteguhan untuk menjauhi maksiat, tidak hanya saat Ramadhan tetapi juga setelahnya. Jika lisan beristighfar namun hati tetap menyimpan kemauan bermaksiat, maka kesempatan diterimanya puasa menjadi sangat kecil.
Dua tanda ini dapat kita jadikan sebagai tolok ukur dan bahan pertimbangan diri atas puasa Ramadhan nan kita jalani. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada dalam ketetapan Allah SWT semata.
Setidaknya, dengan memahami tanda-tanda tersebut, kita mempunyai gambaran tentang kualitas ibadah nan telah kita laksanakan. Semoga puasa kita tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya betul-betul diterima oleh Allah SWT dan membawa perubahan menuju pribadi nan lebih bertakwa.
Akhir kata, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar diberi keikhlasan, keteguhan, dan istiqomah dalam ketaatan. Aamiin ya Rabbal 'Alamin, wallahu a'lam,Wassalamu'alaikum wr.wb.
Kultum Ramadhan 2: Orang nan mempunyai derajat tinggi di sisi Allah SWT
Assalamu'alaikum wr.wb. Bismillahirrahmanirrahim.
Jamaah nan dirahmati Allah, setiap manusia tentu menginginkan kemuliaan dan kedudukan nan tinggi, sehingga tidak sedikit upaya dilakukan untuk meraihnya dengan beragam cara. Namun nan perlu kita renungkan berbareng adalah, ibadah apa nan betul-betul bisa mengangkat derajat kita di hadapan Allah Swt.
Untuk menjawab perihal tersebut, Rasulullah Saw telah memberikan petunjuk nan sangat jelas melalui sebuah hadits nan diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadits ini menjelaskan amalan-amalan sederhana namun mempunyai akibat besar dalam menghapus dosa dan meninggikan derajat seorang hamba.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ. (رواه مسلم)
Artinya:"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr semuanya dari Ismail bin Ja'far, Ibnu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail telah mengabarkan kepada kami Al Ala' dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: "Maukah kalian saya tunjukkan atas sesuatu nan dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudhu pada saat nan tidak disukai (seperti keadaan nan sangat dingin), banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath." (HR. Muslim)
Jamaah sekalian, dalam hadits tersebut Rasulullah Saw menegaskan adanya amalan-amalan nan menjadi karena diampuninya dosa dan ditinggikannya derajat seorang hamba. Salah satunya adalah menyempurnakan wudhu dalam kondisi nan terasa berat dan tidak nyaman.
Sering kali ketika udara pagi terasa dingin alias kondisi tubuh kurang nyaman, kita condong malas untuk berwudhu secara sempurna. Padahal, justru dalam kondisi seperti itulah nilai pahala semakin besar dan Allah Swt mengangkat derajat hamba-Nya.
Amalan berikutnya nan diajarkan Nabi adalah kesabaran dalam menghadapi hal-hal nan tidak disukai oleh jiwa. Termasuk di dalamnya adalah tetap melaksanakan ibadah dan perbuatan baik meskipun terasa berat dan melelahkan.
Rasulullah Saw juga memberi isyarat bahwa jalan menuju surga dikelilingi oleh perkara-perkara nan tidak disenangi oleh hawa nafsu. Namun, siapa saja nan bisa bersabar dan tetap taat, maka Allah Swt bakal menghapus dosa-dosanya serta meninggikan kedudukannya.
Selanjutnya, memperbanyak langkah menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah juga termasuk ibadah nan sangat mulia. Setiap langkah kaki nan dilalui menuju rumah Allah bakal diganjar dengan penghapusan dosa dan peninggian derajat.
Selain itu, menunggu waktu shalat setelah shalat sebelumnya merupakan tanda cinta dan kerinduan seorang hamba kepada ibadah. Inilah nan oleh Rasulullah Saw disebut sebagai ribath, ialah keteguhan hati dalam ketaatan kepada Allah Swt.
Jamaah nan dimuliakan Allah, empat ibadah inilah nan menjadi karena utama dihapuskannya kesalahan dan ditinggikannya derajat seorang hamba. Amalan-amalan tersebut tampak ringan, namun memerlukan kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran.
Semoga Allah Swt senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar dimudahkan dalam mengamalkannya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba nan Allah angkat derajatnya di bumi dan akhirat.
Wallahu a'lam.Wassalamu'alaikum wr.wb.
Kultum Ramadhan 3: Spirit Ramadhan bagi orang nan beriman
Assalamu'alaikum wr.wb. Bismillahirrahmanirrahim.
Jamaah nan dirahmati Allah, bulan Ramadhan adalah waktu penuh kasih sayang dan pembebasan dari Allah Swt bagi hamba-hamba-Nya nan bersungguh-sungguh memohon ampun. Ramadhan pun bakal terasa ringan dan bagus andaikan ketaatan nan tertanam di dalam hati betul-betul kuat dan kokoh.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣.
Artinya: "Hai orang-orang nan beriman, diwajibkan atas Anda berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Anda agar Anda bertakwa."
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa puasa bukan sekedar rutinitas ibadah, tetapi mempunyai tujuan besar, ialah membentuk pribadi nan bertakwa. Dari ayat tersebut pula muncul pertanyaan penting, siapakah sebenarnya nan dimaksud dengan orang-orang beragama itu.
Jamaah sekalian, Rasulullah Saw telah menjelaskan makna ketaatan dengan sangat jelas melalui sabdanya. Penjelasan ini menjadi landasan utama agar kita memahami siapa nan bisa menjalani puasa dengan penuh keikhlasan.
,ِ وَمَلاَئِكَتِھِ , وَكُتُبِھِ , وَرُسُلِھِ , وَالْیوَْمِ الآخِرِ , وَ تؤُْمِنَ باِلقْدَرِْ خَیرِْه وَ شَرِّه قاَلَ : أَنْ تؤُْمنِ باِ.
Artinya: Rasulullah menjawab, "Iman itu artinya engkau beragama kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan Anda beragama kepada takdir nan baik maupun nan buruk." (HR. Muslim).
Dengan pemahaman ketaatan seperti inilah, seorang hamba bisa melaksanakan perintah Allah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Iman nan betul bakal melahirkan ketaatan, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa.
Selain memahami makna iman, jamaah nan dimuliakan Allah, kita juga perlu mengenali ciri-ciri orang beriman. Syekh Nawawi menjelaskan bahwa ciri-ciri tersebut termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 1-5.
1. Ciri pertama orang beragama adalah kepercayaan nan kuat terhadap Al-Qur'an sebagai Kalamullah dan petunjuk bagi orang bertakwa. Keyakinan ini mendorongnya untuk mencintai, membaca, serta mempelajari Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh.
2. Ciri kedua adalah keagamaan terhadap perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, shirath, yaumul mizan, dan kehidupan alambaka lainnya. Keimanan ini menjadikan mereka alim kepada perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
3. Ciri ketiga, ketaatan mereka tertanam kuat di dalam hati dan tidak berakhir pada pengakuan lisan semata. Dari ketaatan nan tulus inilah lahir keikhlasan dalam seluruh ibadah nan dikerjakan.
4. Ciri keempat adalah kesungguhan dalam mendirikan shalat lima waktu sesuai syarat, rukun, dan sunnahnya. Shalat menjadi bukti nyata hubungan nan kokoh antara seorang hamba dengan Allah Swt.
5. Ciri kelima, orang beragama tidak kikir terhadap rezeki nan Allah titipkan kepadanya. Mereka rela menafkahkan sebagian kekayaan kepada orang-orang nan membutuhkan.
6. Ciri keenam adalah kepercayaan terhadap kitab-kitab Allah nan diturunkan sebelum Al-Qur'an seperti Taurat, Zabur, Injil, dan suhuf-suhuf. Keyakinan ini menguatkan pemahaman bahwa puasa juga diwajibkan kepada umat-umat terdahulu.
7. Ciri ketujuh, mereka meyakini sepenuhnya adanya kehidupan alambaka beserta seluruh peristiwanya. Keyakinan ini mencakup kebangkitan, yaumul hisab, serta jawaban berupa nikmat dan siksa.
8. Ciri kedelapan, mereka membuka hati untuk menerima hidayah dan petunjuk dari Allah Swt. Orang-orang inilah nan termasuk golongan beruntung dan selamat dari murka serta balasan Allah.
Jamaah sekalian, Imam Al-Ghazali Hujjatul Islam menjelaskan bahwa puasa nan sempurna adalah puasa nan dilandasi ketaatan dan kecintaan kepada Allah Swt serta Rasulullah Saw.
Dari puasa seperti inilah lahir semangat ibadah, peningkatan amal, memperbanyak shalat sunnah, tadarus Al-Qur'an, membantu sesama, dan penyucian jiwa.
Oleh lantaran itu, marilah kita jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum penghapus dosa dan sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga Ramadhan menjadikan kita hamba-hamba nan dicintai, dirahmati, dan dimuliakan oleh-Nya.
Akhir kata, semoga Allah Swt menerima seluruh kebaikan ibadah kita dan mengokohkan ketaatan di dalam hati kita. Wassalamu'alaikum wr.wb.
Klik laman selanjutnya untuk melanjutkan membaca contoh teks kultum Ramadhan...
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·