slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Bagaimana Hukumnya Bila Lupa Tidak Niat Puasa Ramadhan?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

CNN Indonesia

Jumat, 27 Feb 2026 16:45 WIB

Niat menjadi rukun utama puasa agar ibadahnya diterima Allah. Lalu, gimana hukumnya jika lupa tidak niat puasa Ramadhan? Ilustrasi. Niat menjadi rukun utama puasa agar ibadahnya diterima Allah. Lalu, gimana hukumnya jika lupa tidak niat puasa Ramadhan? (iStockphoto/Drazen Zigic)

Jakarta, CNN Indonesia --

Setiap Muslim tentu mau memastikan ibadah puasa Ramadhan-nya sah dan diterima oleh Allah SWT. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit nan merasa cemas ketika terbangun di pagi hari lampau menyadari belum melafalkan niat pada malam sebelumnya.

Lalu, gimana hukumnya jika lupa tidak niat puasa Ramadhan? Simak penjelasannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dilansir dari Baznas, Ramadhan tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga menjadi puncak momen spiritual bagi umat Islam. Bulan ini disebut sebagai Syahrul Qur'an (bulan Al-Qur'an) lantaran di dalamnya wahyu pertama diturunkan serta tradisi tadarus begitu kuat dijalankan.

Di kembali itu, Ramadan juga mempunyai hukum nan perlu dipenuhi agar setiap ibadah berbobot di sisi Allah SWT. Salah satu aspek paling krusial namun kerap luput dari perhatian adalah niat.

Hal ini lantaran salah satu rukun utama dalam puasa adalah niat. Tanpa niat, puasa tidak mempunyai nilai ibadah di sisi Allah SWT.

Hukumnya lupa tidak niat puasa Ramadhan

Merujuk pada laman NU Online, seseorang nan tidak membaca niat puasa pada malam hari dinyatakan tidak sah puasanya.

Dalam kajian fikih, niat dimaknai sebagai tekad alias keteguhan hati tanpa keraguan untuk menjalankan suatu ibadah. Niat menjadi pembeda antara aktivitas sehari-hari, seperti sekedar menahan lapar alias diet, dengan ibadah nan mempunyai tujuan dan nilai spiritual.

Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabda berikut:


مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Artinya: "Barangsiapa nan tidak beriktikad puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya." (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam kitabKâsyifatus Sajâ, niat untuk puasa wajib, termasuk puasa Ramadhan, wajib diperbarui setiap malam. Hal ini lantaran setiap hari dalam penyelenggaraan puasa dipandang sebagai ibadah nan berdiri sendiri.

Oleh karena itu, andaikan seseorang tidak sempat alias lupa beriktikad pada malam hari, maka puasa nan dijalankan pada siang harinya dinilai tidak sah.

Meskipun begitu, para ustadz dalam ajaran Syafi'i tetap memberikan jalan keluar bagi orang nan terlupa tidak memasang niat puasa Ramadhan pada malam hari. Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmû' Syarhul Muhadzdzab menjelaskan solusi sebagai berikut:


وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْوِيَ فِي أَوَّلِ نَهَارِهِ الصَّوْمَ عَنْ رَمَضَانَ لِأَنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ فَيَحْتَاطُ بِالنِّيَّةِ


"Disunahkan (bagi nan lupa niat di malam hari) beriktikad puasa Ramadhan di pagi harinya. Karena nan demikian itu mencukupi menurut Imam Abu Hanifah, maka diambil langkah kehati-hatian dengan berniat." (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmû' Syarhul Muhadzdzab, [Jedah: Maktabah Al-Irsyad, tt.], juz VI, hal. 315)

Berdasarkan penjelasan tersebut, seseorang nan tidak sempat beriktikad puasa Ramadhan pada malam hari tetap diberi kesempatan untuk melafalkan niat di pagi hari.

Namun, niat nan dilakukan pada pagi itu kudu dipahami sebagai corak taqlid, ialah mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah nan membolehkan perihal tersebut.

Konsep taqlid ini menjadi krusial lantaran kebanyakan Muslim Indonesia berpegang pada ajaran Syafi'i nan mensyaratkan niat puasa dilakukan pada malam hari dan tidak menganggap sah niat nan baru dibuat di pagi hari.

Apabila niat pagi tersebut tidak disertai kesadaran untuk mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah, maka dikhawatirkan seseorang justru terjatuh pada praktik mencampuradukkan ibadah nan rusak.

Penegasan ini juga diterangkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab fatwanya sebagai berikut:

وَفِي الْمَجْمُوعِ يُسَنُّ لِمَنْ نَسِيَ النِّيَّةَ فِي رَمَضَانَ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ النَّهَارِ لِإِجْزَائِهِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ فَيُحْتَاطُ بِالنِّيَّةِ فَنِيَّتُهُ حِينَئِذٍ تَقْلِيدٌ لَهُ وَإِلَّا كَانَ مُتَلَبِّسًا بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي اعْتِقَادِهِ وَذَلِكَ حَرَامٌ


"Dalam kitab Al-Majmû' disebutkan, disunahkan bagi orang nan lupa beriktikad puasa di bulan Ramadhan untuk beriktikad pada pagi hari lantaran bagi Imam Abu Hanifah perihal itu sudah mencukupi, maka diambil langkah kehati-hatian dengan niat. Niat nan demikian itu mengikuti (taqlid) Imam Abu Hanifah. Bila tidak diniati taqlid maka dia telah mencampurkan satu ibadah nan rusak dalam keyakinannya dan perihal itu haram hukumnya." (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatâwâ Al-Fiqhiyyah Al-Kubrâ, juz IV, hal. 307)

Dengan demikian, orang nan terlupa memasang niat puasa pada malam hari tetap mempunyai kemungkinan untuk menjaga keabsahan puasanya melalui niat di pagi hari dengan sistem taqlid tersebut.

Meski begitu, perlu ditekankan kembali bahwa keringanan ini bertindak bagi mereka nan betul-betul lupa, bukan bagi nan sengaja meninggalkan niat pada malam hari.

(gas/fef)

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru