slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Dari Gang Sempit Ke Senopati, Ini Sejarah Warteg Yang Kini Naik Kelas

Sedang Trending 3 hari yang lalu

CNN Indonesia

Selasa, 14 Apr 2026 08:15 WIB

Warteg sekarang tak hanya muncul di jalan-jalan perkampungan. Kini, warteg dibungkus dengan lebih bergaya dan datang di sejumlah area elit. Ilustrasi. Kini, banyak rumah makan berkonsep warteg nan dibungkus dengan lebih bergaya. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Jakarta, CNN Indonesia --

Makan di warung Tegal namalain warteg boleh jadi pilihan banyak orang. Selain pilihan menunya nan beragam, nilai nan ditawarkan juga condong ramah dompet.

Tapi, sekarang warteg tak lagi hanya muncul di jalan-jalan perkampungan. Warteg juga mulai bermunculan di area elit, seperti nan belakangan ramai jadi perbincangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah rumah makan berkonsep warteg berjulukan Salira muncul di area elit Senopati, Jakarta. Kehadiran rumah makan itu pun ramai jadi perbincangan netizen lantaran harganya nan cukup bikin dompet kering.

Tak hanya di Jakarta, warteg nan naik kelas juga muncul di sejumlah kota lainnya, seperti Bandung. Fenomena 'warteg fancy' ini menandai perubahan wajah warung Tegal.

Dari awalnya menjadi solusi makan bagi para pekerja di ibu kota, sekarang warteg menjelma menjadi ruang makan lintas kelas apalagi merambah area elit dengan konsep nan lebih kekinian.

Tampilan lebih bersih, interior estetik, hingga sistem pembayaran digital membikin warteg terlihat naik kelas. Namun di kembali perubahan tersebut, prinsip warteg sebagai penyedia makanan rumahan dengan nilai terjangkau tetap menjadi daya tarik utamanya.

Melansir dari Franchise Warteg, istilah warteg merupakan singkatan dari warung Tegal, merujuk pada wilayah asal para perintisnya di Jawa Tengah. Sejarahnya bermulai pada era 1950-an, ketika banyak penduduk Tegal merantau ke Jakarta di tengah gelombang pembangunan besar-besaran.

Pada saat itu, para pekerja proyek memerlukan makanan nan murah, cepat, dan mengenyangkan. Dari kebutuhan inilah muncul warung makan sederhana nan biasanya dikelola oleh family para perantau. Menu nan disajikan pun sederhana, seperti tempe orek, telur balado, hingga sayur rumahan.

Seiring waktu, warung ini berkembang pesat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan urban di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Mengutip dari NU Online, warteg sekarang apalagi terkenal dan eksis di sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, Belanda, Jerman, hingga Arab Saudi.

Ciri unik warteg tidak banyak berubah sejak dulu. Etalase kaca nan menampilkan beragam lauk siap santap menjadi ikon nan mudah dikenali. Pelanggan cukup menunjuk menu nan diinginkan, dan dalam hitungan detik makanan sudah tersaji.

Kecepatan jasa ini menjadi salah satu argumen utama warteg tetap memperkuat di tengah persaingan kuliner modern. Selain itu, nilai nan ramah kantong menjadikannya pilihan utama bagi beragam kalangan, mulai dari pekerja informal hingga tenaga kerja kantoran.

Menu nan beragam juga menjadi kekuatan tersendiri. Dalam satu warteg, pengguna bisa menemukan puluhan pilihan lauk nan berganti setiap hari, sehingga tidak mudah bosan.

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul tren warteg dengan konsep lebih modern alias nan disebut 'warteg fancy'. Warteg jenis ini datang dengan tampilan lebih rapi, pencahayaan terang, serta akomodasi seperti pendingin ruangan dan sistem pembayaran non-tunai.

Meski tampil lebih modern, konsep dasar warteg tidak sepenuhnya berubah. Menu nan ditawarkan tetap makanan rumahan dengan cita rasa khas, hanya dikemas dengan pengalaman makan nan lebih nyaman.

Meski tren warteg fancy terus berkembang, ada kekhawatiran bahwa prinsip warteg sebagai makanan rakyat bisa perlahan bergeser. Harga nan mulai naik di beberapa letak elit menjadi salah satu sorotan.

Namun, pada dasarnya, warteg sejatinya tetap dikenal sebagai solusi makan hemat. Selama tetap bisa menyediakan makanan enak, cepat, dan terjangkau, warteg bakal selalu punya tempat di hati masyarakat.

Dari warung mini untuk pekerja hingga menjadi sasaran pekerja ibu kota, perjalanan warteg menunjukkan bahwa kuliner rakyat bisa memperkuat apalagi berkembang tanpa kudu meninggalkan akarnya.

(nga/asr)

Add as a preferred
source on Google

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru