Jakarta, CNN Indonesia --
Ibu korban kebakaran gedung Terra Drone, Mulyati, mengaku kecewa saat menjadi saksi di persidangan kasus dugaan kelalaian dengan terdakwa Dirut PT Terra Drone Indonesia, Michael Wisnu Wardhana. Ia menyatakan sulitnya berkomunikasi dengan pihak PT Terra Drone.
"Saya kecewa sama PT Terra menghubunginya susah sekali apalagi saya datang ke Bandung, surat saya tidak ditanggapi. Itu intinya saya kecewa," ujar Mulyati di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, mengutip detikcom, Rabu (15/4).
Mulyati merupakan ibu dari Muhammad Apriyana nan saat itu bekerja di PT Terra Drone sekitar 8 bulan. Mulyati mengaku tetap terbayang dengan video anaknya saat mencoba menyelamatkan diri dalam kebakaran gedung tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dapat info meninggalnya lantaran apa bu?" tanya jaksa.
"Kecelakaan kerja, jika saya lihat dari yang, Pak ya. Almarhum. Jadi memandang itu video itu, ya menurut saya tidak memenuhi syarat, lantaran tidak ada tangga darurat, menurut saya, untuk nan tadi kembali pada Ibu, itu kecelakaan," ujar Mulyati.
"Sedang anak saya di video terakhir itu, mau menyelamatkan diri dia. Kan, gitu. nan saya tetap terbayang," tambahnya.
Mulyati mengatakan perwakilan PT Terra Drone sudah datang ke rumahnya untuk menyampaikan belasungkawa. Dia berambisi tanggung jawab dari PT Terra Drone lantaran Apriyana meninggalkan dua anak nan tetap kecil.
Ibu korban menangis
Di saat nan sama, Ibu korban kebakaran instansi Terra Drone, Mimi Adriani Nasution, menangis saat menceritakan momen terakhir memandang jenazah putranya.
Mimi menceritakan saat mendapatkan info kebakaran gedung PT Terra Drone, dia kemudian menuju RS Polri untuk keperluan autopsi. Mimi mengatakan master mengambil sampel air liur dan kikir gigi untuk proses identifikasi di RS Polri.
Dia mengaku sempat memandang kondisi terakhir jenazah putranya nan tak ada jejak tanda terbakar.
"Begitu dibuka kafannya, dari hidung anak saya tetap mengucur darah segar. Tapi, saya bertanya, gimana kondisi anak saya, Dokter? Boleh saya lihat? Alhamdulillahnya, kondisi Raihan tidak ada satu kondisi nan terbakar," ujar Mimi menjawab Jaksa.
Mimi menduga putranya meninggal lantaran menghirup racun dari baterai drone di gedung tersebut. Dia kemudian menangis saat menceritakan wajah putranya tersenyum.
"Jadi, saya berkesimpulan. Raihan itu menghirup racun. Karena pada saat saya mengambil Raihansyah anak saya, itu darah segar mengucur terus dari hidung. Dan aroma mesiu, kayak aroma itu dari tubuh anak saya. Sudah dibersihin, muka juga bersih," kata Mimi.
"Alhamdulillahnya, saya menangisnya. Raihan itu dalam keadaan tersenyum gitu lo. Kondisi Raihan tersenyum meninggalnya. Seperti itu, Pak. nan membikin saya cukup terluka," sambung Mimi sembari terus menangis
Dia mengatakan suaminya tak sempat memandang jenazah putranya. Dia mengatakan saat itu suaminya dalam perjalanan pulang dari Kanada.
"Itu nan terakhir kali saya lihat almarhum anak saya, dan Rabu sekitar separuh 9 malam, saya langsung kafani. Pada saat itu, ayahnya tetap dalam perjalanan dari Kanada. Jadi ayahnya tidak sempat memandang mayit anaknya, lantaran tetap di pesawat," ujar Mimi.
Kendati demikian, Mimi mengaku sudah mengampuni Michael. Dia berambisi PT Terra Drone memberikan kompensasi nan sesuai untuk semua korban.
"Ya mungkin saya mungkin mengenai dengan perusahaan, mungkin Pak Michael, juga berikanlah kompensasi nan sesuai, Pak, dengan kejadian ini. Karena kan juga perusahaan Bapak bukan perusahaan mini gitu. Cukup besar. Siapa nan nggak tahu Terra Drone? Saya juga tahu Terra Drone itu siapa, pemiliknya juga siapa," ujar Mimi.
Add
as a preferred source on Google
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·