Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi Anda nan mencari inspirasi khutbah Jumat jelang Idul Adha, berikut contoh teksnya nan bisa dijadikan panduan.
Syiar khutbah Jumat jelang Idul Adha adalah waktu krusial untuk memahami lebih dalam makna pengorbanan, keikhlasan, dan ketakwaan. Khutbah ini membujuk kita merenungkan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, khutbah juga mengingatkan kita untuk menyambut Idul Adha dengan hati nan bersih dan pasrah kepada Allah. Bukan hanya soal ibadah kurban, tapi juga pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, pekerjaan, maupun dalam hubungan sesama.
Pesan-pesan ini bermaksud agar Idul Adha bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan peristiwa nan menguatkan iman.
Bagi khatib nan memerlukan inspirasi khutbah Jumat jelang Idul Adha, berikut beberapa contoh nan dilansir dari NU Online.
Teks khutbah Jumat jelang Idul Adha 1
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الْقَهَّارِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمٍ تَتَوَالَى كَالْأَمْطَارِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مُتَرَادِفِ فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلَ مَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَبْرَارِ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin Sidang Jumat nan dimuliakan Allah Pertama sekali marilah kita berterima kasih ke hadirat Allah nan telah memberikan berjuta-juta kenikmatan kepada kita sekalian. Sehingga kita tetap bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid nan mulia ini.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad nan telah membimbing kita menuju addinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya nan mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.
Hadirin Sidang Jumat nan dimuliakan Allah Selaku khotib kami membujuk kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah selalu berupaya meningkatkan keagamaan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berupaya menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Semoga Allah selalu memberikan pengarahan dan kekuatan kepada kita sehingga selalu dalam keagamaan dan ketakwaan kepada-Nya. Amin.
Hadirin Sidang Jumat nan dimuliakan Allah Beberapa hari lagi, kita bakal kehadiran hari nan mulia, ialah Hari Raya Idul Adha. Bukan sekadar perayaan, Hari Raya Idul Adha juga menjadi momentum bagi setiap Muslim nan bisa untuk berbagi pada sesama melalui hewan kurban nan disembelih.
Selain berbagi, makna Idul Adha juga mengajarkan setiap umat Islam untuk bisa memberi pengorbanan secara tulus atas segala sesuatu nan dilakukan dan dicintai.
Begitu spesialnya Idul Adha, kita sebagai umat Islam sangat krusial untuk memberikan apresiasi dan memuliakan Idul Adha. Beberapa ibadah nan baik dilaksanakan dalam rangka menyambut dan memuliakan Idul Adha:
Pertama, memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil Takbir, tahmid, dan tahlil merupakan kalimat thayyibah nan baik dikumandangkan dalam rangka menyambut kehadiran hari raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri.
Kalimat tersebut dikumandangkan sebagai corak kegembiraan dan terima kasih kita kepada Allah atas kehadiran Hari Raya Idul Adha. Tak hanya menjelang 10 Dzulhijjah saja, bakal tetapi sunnah dikumandangkan hingga 13 Dzulhijjah.
Dari Umar, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
"Tidak ada hari nan paling agung dan banget dicintai Allah untuk melakukan amal di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini.
Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid." (HR Ahmad No 6154)
Kedua, berpuasa sunnah Tarwiyah dan Arafah Puasa tersebut menjadi salah satu ibadah nan sebaiknya dilakukan tiap Muslim di Dzulhijjah.
Puasa Arafah dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah. Sedangkan Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Puasa ini juga sangat di anjurkan bagi orang-orang nan tidak melaksanakan ibadah haji. Rasulullah bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
"Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun nan lampau dan setahun bakal datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) bakal menghapuskan dosa setahun nan lalu." (HR Muslim).
Ketiga, menunaikan haji dan umrah Menunaikan ibadah haji bagi nan bisa alias dimampukan oleh Allah. Bagi Muslim nan mampu, haji menjadi ibadah nan dilakukan pada Dzulhijjah.
Haji dan umrah juga merupakan panggilan bagi orang tertentu sehingga kudu datang memenuhi panggilan Allah.
Haji hukumnya wajib dan dilaksanakan sekali seumur hidup bagi nan mampu.
Keutamaan haji tercantum dalam hadits nan dijelaskan Nabi Muhammad:
سُئِلَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ
''Rasulullah SAW ditanya, ibadah apa nan paling utama? Beliau menjawab, Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ada nan bertanya lagi, Kemudian apa lagi? Beliau menjawab, Jihad di jalan Allah. Ada nan bertanya kembali, Kemudian apa lagi?" Haji mabrur, jawab Rasulullah.'' (HR Bukhari)
Lalu ibadah umrah?
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
"Ikutkanlah umrah kepada haji, lantaran keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.
Sementara tidak ada pahala bagi haji nan mabrur selain surga." (HR An Nasai)
Keempat, sebaiknya tidak makan sebelum Shalat Idul Adha Dalam rangka menyambut Idul Adha sampai sampai nabi tidak makan pagi duluan sehingga shalat dalam kondisi perut belum terisi.
Hal ini juga merupakan penghargaan kepada Idul Adha dan juga lantaran bakal adanya daging sembelihan daging kurban setelah shalat id.
Dari 'Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berangkat shalat id pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu selain setelah pulang dari shalat id baru beliau menyantap hasil kurbannya.'' (HR Ahmad 5: 352)
Kelima, melaksanakan Shalat Idul Adha Dalam Mazhab Imam Abu Hanifah rahimahullah dan riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah, diwajibkan kepada seluruh orang Islam untuk melaksanakan shalat id, dan orang nan meninggalkannya tanpa ada udzur, maka berdosa.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ .فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
''Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat nan banyak. Maka dirikanlah shalat lantaran Rabbmu; dan berkorbanlah." (QS Al-Kautsar/108: 1-2)
Sedangkan menurut Mazhab Syafi'I, Shalat Idul Adha bukan merupakan kewajiban, bakal tetapi merupakan ibadah sunnah. Rasulullah bersabda:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ
''Rasûlulâh shallallahu 'alaihi wa sallam dulu berangkat pada hari 'Îdul Fitri dan Adha ke mushala. Beliau memulai dengan shalat.'' (HR Muttafaqun 'Alaihi)
Keenam, menyembelih hewan kurban Ibadah kurban merupakan ibadah sosial dari kaum muslimin di Dzulhijjah.
Kurban alias menyembelih hewan kurban sangat baik dilakukan tiap muslim nan bisa di Dzulhijjah sesuai dengan waktu nan ditentukan.
Kurban merupakan ibadah nan sangat baik jika dilakukan dengan tulus nan sudah dicontohkan oleh family Nabi Ibrahim.
Dan kurban adalah salah satu ibadah nan dicintai Allah. Rasulullah bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »
''Dari Aisyah, Rasulullah mengatakan, tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu ibadah nan lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia bakal datang pada hari hariakhir dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut bakal sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban." (HR Tirmidzi)
Hadirin Sidang Jumat nan dimuliakan Allah Demikian khutbah nan singkat ini, semoga bisa dipahami dan dapat melakukannya.
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ.
Teks khutbah Jumat jelang Idul Adha 2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ : لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita semua untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah swt atas segala nikmat nan telah dilimpahkan, termasuk nikmat umur panjang dan kesehatan. Berkat karunia-Nya, pada hari ini kita tetap diberikan kesempatan untuk melaksanakan salah satu tanggungjawab utama sebagai Muslim, ialah shalat Jumat secara berjamaah.
Selain itu, nikmat panjang umur juga kita rasakan ketika saat ini kita tengah bersiap memasuki bulan Dzulhijjah-bulan nan penuh kemuliaan dan keberkahan, di mana kita bakal berjumpa dengan Hari Raya Idul Adha alias Hari Raya Kurban.
Nikmat-nikmat ini sudah sepantasnya kita syukuri dengan sepenuh hati. Lebih dari itu, datangnya bulan Dzulhijjah kudu menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam meningkatkan ketaatan dan takwa kepada Allah swt.
Sebab, dalam bulan ini terdapat dua ibadah utama nan sangat mulia dan identik dengan Idul Adha, ialah menyembelih hewan kurban dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Kedua ibadah ini merupakan bentuk konkret dari rasa syukur dan penghambaan kita kepada Allah.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Ibadah kurban dan haji tidak bisa dipisahkan dari Hari Raya Idul Adha. Keduanya bukan hanya memerlukan niat alias kemauan, tetapi juga perjuangan.
Mengapa? lantaran kita semua tahu bahwa saat mau melaksanakan ibadah haji dan kurban, kita kudu mengeluarkan kekayaan kita untuk melaksanakannya.
Diperlukan biaya nan tidak sedikit untuk melakukan ibadah haji. Hal ini disebabkan oleh jauhnya jarak antara negeri kita dan Kota Suci Makkah.
Puluhan juta, apalagi ratusan juta rupiah kudu dipersiapkan untuk dapat berhaji ke Tanah Suci. Selain itu, kita juga perlu menyiapkan biaya untuk family alias orang-orang nan kita tinggalkan selama menjalankan rukun Islam nan kelima ini.
Tentunya, perihal ini bukanlah perkara mudah bagi setiap kita, lantaran tidak semua diberikan keahlian finansial.
Oleh lantaran itu, ibadah haji memang hanya diwajibkan bagi mereka nan bisa alias istitha'ah.
Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali 'Imran ayat 97:
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧
Artinya: "Di dalamnya terdapat tanda-tanda nan jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa nan memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) tanggungjawab manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang nan bisa mengadakan perjalanan ke sana. Siapa nan mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam."
Selain ibadah haji, kita juga disyariatkan untuk mengorbankan sebagian kekayaan nan kita miliki dengan menyembelih hewan qurban.
Ibadah ini juga memerlukan keikhlasan dan keimanan, lantaran kita kudu rela mengeluarkan kekayaan kita untuk membeli hewan kurban nan dagingnya bakal dibagikan kepada orang lain.
Bukan hewan sembarangan nan bisa menjadi hewan kurban. Kita dianjurkan untuk memilih hewan kurban nan terbaik dan telah memenuhi persayaratan nan telah ditetapkan oleh hukum Islam.
Jika tidak sesuai persyaratan, maka kurban kita bisa jadi tidak sah. Rasulullah bersabda:
أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى
Artinya: "Ada empat macam hewan nan tidak sah dijadikan hewan kurban, pertama nan matanya jelas-jelas buta, kedua nan fisiknya jelas-jelas dalam keadaan sakit, ketiga nan kakinya jelas-jelas pincang, dan keempat nan badannya kurus lagi tak berlemak." ( HR At- Tirmidzi dan Abu Dawud).
Dengan syarat-syarat ini, maka jelas bisa dipahami bahwa kita kudu merogoh kantong saku lebih dalam untuk menyiapkan duit dan betul-betul menguatkan tekad dan keagamaan untuk membeli hewan kurban ini.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Kedua ibadah nan datang pada momentum Hari Raya Idul Adha ini betul-betul menguji keagamaan dan menunjukkan seberapa besar rasa syukur kita atas nikmat nan telah Allah berikan. Pengorbanan kekayaan dan materi dalam ibadah haji dan kurban sejatinya adalah bentuk syukur atas nikmat nan diberikan Allah, nan kudu kita gunakan sebaik-baiknya, salah satunya untuk beragama kepada-Nya.
Karena itu, Idul Adha merupakan momen nan sangat tepat untuk memperkuat keagamaan dan mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah swt. Ibadah kurban dan haji dengan biaya nan tidak sedikit ini kudu memberikan kesadaran pada kita bahwa kekayaan nan kita miliki hanyalah titipan dari Allah, nan wajib kita syukuri dan manfaatkan di jalan nan diridhai-Nya.
Insya Allah, dengan rasa syukur ini, nikmat nan kita miliki bakal terus ditambah sebagaimana janji Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika Anda bersyukur, niscaya Aku bakal menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika Anda mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku betul-betul sangat keras."
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Hubungan antara ibadah kurban dengan rasa syukur atas nikmat Allah swt juga termaktub dalam surat Al-Kautsar:
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ . اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
Artinya: "(1) Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat nan banyak. (2) Maka, laksanakanlah shalat lantaran Tuhanmu dan berkurbanlah! (3) Sesungguhnya orang nan membencimu, dialah nan terputus (dari rahmat Allah)."
Dalam kitab Tafsir Al-Misbah jilid XV dijelaskan, surat ini berisi perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan shalat dan menyembelih hewan kurban sebagai corak syukur atas nikmat nan telah Allah berikan.
Perintah ini adalah untuk beragama dalam pengertian nan lebih luas, ialah menunjukkan rasa syukur dan ketaatan melalui beragam corak ibadah.
Karena itu pada momentum kali ini, mari kita wujudkan rasa syukur dengan menguatkan komitmen untuk bisa beragama kurban dan juga haji. Insyaallah kita termasuk golongan orang-orang nan beragama dan pandai bersyukur. Amin.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Itulah contoh teks khutbah Jumat jelang Idul Adha beserta angan dan dalilnya. Semoga bermanfaat!
(gas/fef)
[Gambas:Video CNN]
10 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·