CNN Indonesia
Selasa, 28 Apr 2026 21:00 WIB
Ilustrasi. Tidak hanya MBTI, ada Big 5 Personality nan bisa membantu mengenal kepribadian seseorang. Konsep ini disebut lebih jeli dan konsisten. (Getty Images/staticnak1983)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada beragam teori guna menjelaskan ragam kepribadian individu. Namun teori Big 5 Personality namalain OCEAN disebut-sebut lebih jeli dan konsisten. Pun konsep ini sudah diakui para ahli. Seperti apa?
Konsep Big 5 Personality alias OCEAN disebut sebagai salah satu pendekatan paling ilmiah dalam memahami kepribadian manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsep ini tidak hanya terkenal di kalangan psikolog, tetapi juga digunakan dalam beragam penelitian lantaran dianggap bisa menjelaskan karakter dasar manusia secara lebih jeli dan konsisten.
Berbeda dengan tes kepribadian terkenal nan membagi manusia ke dalam jenis tertentu, Big 5 Personality memandang kepribadian sebagai spektrum.
Artinya, setiap orang mempunyai kadar berbeda dalam lima dimensi utama bukan sekadar jenis A alias jenis B, melainkan kombinasi unik nan terus berkembang.
5 dimensi utama Big 5 Personality
Melansir dari Cleveland Clinic, penelitian menunjukkan bahwa kepribadian terbentuk dari kombinasi aspek genetik dan pengalaman hidup. Sekitar 50 persen dipengaruhi oleh lingkungan, seperti pola asuh dan pengalaman masa kecil.
Karena berbasis info ilmiah dan telah diuji lintas budaya sejak 1970-an, konsep ini dianggap lebih andal dibandingkan banyak tes kepribadian lainnya. Berikut merupakan penjelasan lima dimensi utama dalam Big 5 Personality.
1. Openness (keterbukaan)
Openness menggambarkan seberapa terbuka seseorang terhadap ide, pengalaman, dan perspektif baru. Orang dengan tingkat openness tinggi biasanya kreatif, imajinatif, dan suka mencoba perihal baru, sementara nan rendah condong nyaman dengan rutinitas dan tradisi.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang nan terbuka biasanya mudah menerima perbedaan dan tertarik pada hal-hal baru. Sementara itu, orang nan kurang terbuka bisa merasa tidak nyaman dengan perubahan dan memilih langkah nan sudah terbukti aman
2. Conscientiousness (ketelitian)
Ilustrasi. Dimensi ketelitian mendeskripsikan seberapa orang terorganisir, bertanggung jawab, dan berorientasi pada tujuan. (Yemima Prasetya Christiana Putri)
Mengutip dari Verywell Mind, dimensi ini menggambarkan seberapa terorganisasi, bertanggung jawab, dan berorientasi tujuan seseorang. Orang dengan tingkat tinggi condong disiplin, terstruktur, dan konsentrasi pada pencapaian, sedangkan nan rendah lebih spontan dan condong menunda pekerjaan.
Hal ini sering dikaitkan dengan keberhasilan dalam pendidikan dan pekerjaan. Namun, jika terlalu tinggi juga bisa membikin seseorang perfeksionis dan mudah stres. Sebaliknya, tingkat rendah bisa membikin seseorang lebih fleksibel, tetapi berisiko pada kurangnya konsistensi.
Ekstroversi berangkaian dengan gimana seseorang mendapatkan energi, apakah dari hubungan sosial alias dari waktu sendiri. Orang ekstrovert condong aktif, ekspresif, dan menikmati keramaian, sementara introvert lebih nyaman dengan hubungan nan lebih mini dan mendalam.
Penting untuk dipahami, introvert bukan berfaedah antisosial. Mereka tetap menghargai hubungan sosial, tetapi dalam jumlah nan lebih terbatas dan lebih bermakna. Sementara itu, ekstrovert sering tampil percaya diri dalam situasi sosial dan condong lebih mudah membangun hubungan baru.
4. Agreeableness (keramahan)
Agreeableness menggambarkan sejauh mana seseorang peduli terhadap orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Orang dengan tingkat tinggi biasanya empatik, hangat, dan kooperatif, sedangkan nan rendah condong lebih kompetitif alias individualistis.
Dalam hubungan interpersonal, keramahan nan tinggi membantu membangun relasi nan harmonis. Namun, jika terlalu tinggi, seseorang bisa terjebak dalam perilaku people-pleasing alias mengorbankan diri sendiri. Sebaliknya, tingkat rendah bisa membikin seseorang lebih tegas, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik.
5. Neuroticism (ketidakstabilan emosi)
Neuroticism berangkaian dengan gimana seseorang merespons stres, kecemasan, dan emosi negatif. Orang dengan tingkat tinggi condong lebih sensitif, mudah cemas, dan reaktif secara emosional, sedangkan nan rendah lebih tenang dan stabil.
Dalam kehidupan sehari-hari, neuroticism tinggi sering dikaitkan dengan akibat gangguan kekhawatiran alias depresi. Namun, kesadaran emosional nan tinggi juga bisa membantu seseorang lebih peka terhadap diri sendiri. Sementara itu, tingkat rendah memberi ketenangan, tetapi kadang dianggap kurang empatik.
Ilustrasi. Big 5 Personality tidak mengkotak-kotakkan perseorangan ke satu jenis tertentu. (Freepik.com)
Konsep Big 5 dianggap lebih kuat secara ilmiah lantaran berbasis info empiris dan dapat direplikasi di beragam penelitian.
Selain itu, konsep ini tidak mengotak-ngotakkan manusia ke dalam satu jenis tertentu. Seseorang bisa saja tinggi di openness, rendah di neuroticism, tetapi sedang di dimensi lainnya dan kombinasi inilah nan membentuk karakter seseorang.
Meski condong stabil, kepribadian bukan sesuatu nan sepenuhnya tetap. Pengalaman hidup, lingkungan, hingga terapi psikologis dapat menggeser posisi seseorang dalam Big 5.
Misalnya, seseorang dengan neuroticism tinggi bisa belajar mengelola stres melalui terapi. Atau orang nan mau lebih ekstrovert bisa melatih keahlian sosial secara bertahap.
Big 5 Personality menawarkan langkah nan lebih realistis dan ilmiah untuk memahami diri sendiri. Alih-alih memberi label, konsep ini membantu memandang kepribadian sebagai spektrum nan bisa berkembang.
(nga/els)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·