Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan waktu pengiriman bahan baku industri petrokimia salah satunya untuk membuat plastik kini bertambah hingga 50 hari akibat gangguan di area Selat Hormuz.
"Waktu pengiriman nan sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berakibat pada peningkatan beban biaya produksi," ujar Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (17/4).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran akibat dinamika geopolitik global, khususnya di area Timur Tengah, terhadap rantai pasok bahan baku petrokimia dan industri plastik nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenperin sendiri telah mempertemukan pelaku industri hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, hingga industri daur ulang plastik guna membahas kondisi terkini serta langkah mitigasi bersama.
Dari pertemuan tersebut, Agus menyebut pelaku industri menyampaikan optimisme mengenai kesiapan stok plastik di dalam negeri, meski pemerintah tetap mencermati perkembangan global.
"Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan agunan dari industri bahwa stok plastik semestinya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, lantaran pemerintah tetap bakal terus memantau perkembangan situasi dunia secara jeli nan berakibat terhadap produksi dan stok subsektor ini," katanya.
[Gambas:Youtube]
Meski stok dinilai tetap aman, Kemenperin mengakui gejolak di Selat Hormuz telah memicu distorsi pada struktur nilai plastik di dalam negeri. Kenaikan biaya logistik, freight pelabuhan, hingga tambahan biaya surcharge menjadi aspek nan mendorong penyesuaian harga.
Selain itu, keterlambatan pengiriman bahan baku dari luar negeri turut memperbesar tekanan biaya produksi industri.
Dalam forum tersebut, pelaku industri juga menyatakan komitmennya menjaga kesinambungan suplai plastik, terutama bagi pelaku upaya mini agar tetap bisa bersaing di pasar.
Agus menilai situasi dunia saat ini menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional, khususnya dalam penyediaan bahan baku domestik.
"Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional nan kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi," ujarnya.
Pemerintah turut menyinggung perlunya menjaga daya tarik subsektor petrokimia agar tetap diminati investor. Salah satu aspek nan dinilai krusial adalah perlindungan pasar domestik dari tekanan produk impor.
Di sisi lain, pemerintah bakal terus mengupayakan pemenuhan bahan baku nasional dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan sektor daya dan industri petrokimia.
Pertemuan tersebut juga mengungkap potensi pengembangan bahan baku substitusi nafta dari sumber pengganti domestik, seperti minyak sawit mentah (drude palm oil/CPO). Meski tetap menghadapi tantangan dari sisi keekonomian, opsi ini dinilai perlu terus dieksplorasi untuk mengurangi ketergantungan impor.
"Kita kudu memandang seluruh potensi sumber daya nasional nan bisa menjadi pengganti bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya tetap perlu dihitung secara matang," kata Agus.
Menperin Agus menyebut persaingan dunia dalam memperoleh bahan baku petrokimia diperkirakan bakal semakin ketat di tengah kondisi geopolitik saat ini.
"Kemenperin bakal terus datang berbareng pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, datang sejumlah asosiasi dan pelaku industri, antara lain INAPLAS, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Asahimas Chemical, Indorama Group, hingga beragam asosiasi industri plastik dan daur ulang lainnya.
(del/ins)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·