Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Malaysia meminta seluruh kementerian lembaga hingga badan federal untuk memangkas anggaran operasional 2026. Kebijakan ini sebagai respons terhadap akibat bentrok Timur Tengah nan memicu lonjakan harga energi global.
Langkah itu dilakukan untuk melindungi penduduk Negeri Jiran dari kenaikan biaya hidup akibat perang, mengutip Channel News Asia pada Kamis (30/4).
"Lonjakan tajam nilai daya akibat bentrok telah berakibat langsung pada biaya hidup dan meningkatkan tagihan subsidi pemerintah," ujar Sekretaris Jenderal Perbendaharaan Malaysia Johan Mahmood Merican dalam arsip internal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johan mengungkapkan biaya subsidi diperkirakan mencapai 58,4 miliar ringgit (US$14,79 miliar) alias setara Rp256,38 triliun (kurs Rp17.335) tahun ini.
Perkiraan nomor itu jauh melampaui alokasi awal sebesar 15 miliar ringgit alias setara Rp65,57 triliun (kurs Rp4.371 per ringgit) nan direncanakan untuk 2026.
Kementerian Keuangan Malaysia mencatat biaya subsidi daya sekarang mencapai sekitar 7 miliar ringgit alias setara Rp30,59 triliun per bulan. Angka ini meningkat tajam hingga 10 kali lipat dibandingkan sebelum bentrok pecah pada akhir Februari 2026.
[Gambas:Youtube]
Pemerintah pun meminta seluruh kementerian dan lembaga untuk meninjau ulang shopping operasional mereka. Proposal pemangkasan anggaran diminta diserahkan paling lambat 15 Mei mendatang.
Sejumlah langkah penghematan telah diusulkan dalam kebijakan tersebut. Di antaranya pembatasan penghasilan dan tunjangan untuk posisi kosong, pemangkasan 10 persen shopping peralatan dan jasa, serta pengurangan 20 persen anggaran bagi badan norma dan perusahaan milik negara.
Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil, membenarkan kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya efisiensi. Ia menegaskan pemerintah belum berencana mengusulkan ulang anggaran 2026 ke parlemen.
"Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk merampingkan program dan implementasinya, seiring Malaysia menghadapi tantangan dari krisis pasokan global," ujar Fahmi dalam konvensi pers.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah memastikan pasokan daya domestik tetap kondusif dalam jangka pendek. Perusahaan minyak nasional Petronas disebut menjamin kesiapan daya untuk Mei dan Juni.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai lonjakan nilai bahan bakar. Kenaikan nilai minyak bumi dan diesel dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran negara.
(ldy/ins)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·