CNN Indonesia
Selasa, 14 Apr 2026 18:00 WIB
Ilustrasi pesawat maskapai Easyjet. (Tobias Schwarz / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Insiden menyebalkan menimpa ratusan calon penumpang pesawat maskapai EasyJet di Bandara Linate, Milan, Italia, Minggu (12/4), usai ditinggal terbang.
Sebanyak 100 orang kandas berangkat untuk terbang menuju Manchester, Inggris, meski mereka sudah berada di airport jauh sebelum agenda penerbangan nan ditetapkan.
Hanya 30 penumpang nan sukses masuk ke pesawat dengan nomor penerbangan EJU5420 tersebut. Kekacauan ini dipicu oleh kemacetan parah di pos pemeriksaan paspor menyusul penerapan sistem keamanan baru Uni Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiera (17), salah satu penumpang asal Oldham, menceritakan pengalamannya nan menyesakkan. Ia berbareng pasangannya sudah tiba di airport sejak pukul 07.30 waktu setempat untuk mengejar penerbangan pukul 11.00. Meski datang 3,5 jam lebih awal, mereka terjebak di antrean pemeriksaan perbatasan selama lebih dari tiga jam.
"Sekitar pukul 10.50, petugas apalagi sempat membagikan air minum lantaran antrean nan sangat panjang. Begitu sampai di depan petugas, kami baru diberitahu bahwa pesawat sudah lepas landas," ungkap Kiera, seperti dilansir BBC, Senin (13/4).
Akibatnya, dia terpaksa terkatung-katung di airport selama 20 jam sebelum mendapatkan penerbangan pengganti keesokan harinya.
Nasib serupa dialami Adam Lomas (33), seorang akuntan nan sedang berpiknik berbareng istri dan bayi perempuannya nan berumur empat bulan. Adam mengeluhkan minimnya support dari pihak maskapai saat kejadian terjadi.
"Saya mencoba menghubungi jasa pelanggan, tetapi hanya diarahkan ke chatbot. Saat mencoba melakukan panggilan, terjadi gangguan audio hingga akhirnya petugas memutus sambungan telepon sepihak," kata Adam.
Karena putus asa, beberapa penumpang apalagi nekat berkendara ke Pisa untuk mencari agenda penerbangan lain, sementara Adam memilih menginap di hotel terdekat.
Pihak EasyJet menyatakan bahwa keterlambatan masif ini disebabkan oleh pengoperasian penuh Sistem Masuk/Keluar Eropa (EES) nan baru saja bertindak pada 10 April 2026.
Sistem ini mewajibkan pelancong dari luar wilayah Schengen, termasuk Inggris, untuk mendaftarkan info biometrik berupa sidik jari dan foto wajah.
Prosedur digital ini menggantikan sistem stempel paspor manual nan selama ini digunakan. Meski Pemerintah Inggris telah menginformasikan bahwa pendaftaran EES tidak dipungut biaya dan tidak memerlukan tindakan sebelum tiba di perbatasan, realita di lapangan menunjukkan proses ini menyantap waktu jauh lebih lama dari perkiraan.
Maskapai dan Bandara Saling Tuding
Kekacauan semakin menjadi ketika para penumpang menyaksikan langsung adu mulut antara petugas maskapai dan pihak airport di tengah terminal.
"Pihak airport dan EasyJet menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdebat mengenai siapa nan kudu bertanggung jawab atas kegagalan ini," ujar Lomas.
Menanggapi perihal tersebut, ahli bicara EasyJet menegaskan bahwa hambatan di bagian pemeriksaan paspor sepenuhnya berada di luar kendali maskapai. Namun, mereka menyatakan telah berupaya meminimalkan akibat dengan menunda jam keberangkatan selama beberapa saat untuk memberi waktu tambahan bagi penumpang di antrean.
"Kami menyadari waktu tunggu di pemeriksaan paspor di Milan Linate sangat tidak wajar. Kami mendesak otoritas perbatasan untuk menggunakan elastisitas sistem agar penundaan nan tidak dapat diterima ini tidak terulang kembali," tulis pernyataan resmi EasyJet.
Sebagai corak kompensasi, EasyJet menyediakan jasa pindah agenda penerbangan secara cuma-cuma bagi para penumpang nan terdampak, sembari memohon maaf atas ketidaknyamanan nan dialami pelancong.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·