Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap momen ketika melaporkan kenaikan penerimaan pajak Indonesia pada periode Januari-Februari 2026 ke Presiden Prabowo Subianto.
Pada periode tersebut, berasas info Kementerian Keuangan, penerimaan pajak tercatat sebesar Rp245,1 triliun. Angka ini tumbuh 30,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Ketika menerima laporan tersebut dari Purbaya, Prabowo menanggapinya secara positif. Prabowo menilai para pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan sudah takut melakukan penyelewengan. Selain itu, masyarakat dianggap juga sudah lebih disiplin dalam pembayaran pajak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Januari-Februari tumbuhnya sempat 30 persen. Waktu saya laporkan ke Bapak Presiden, komentar dia, 'wah, sudah pada takut, ya?' Jadi orang pajak takut nyeleweng, masyarakat juga sepertinya lebih disiplin," kata Purbaya dalam rapat berbareng Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/4).
Sementara per 31 Maret 2026, Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun. Angka ini tumbuh 20,7 persen dibanding periode nan sama pada tahun sebelumnya.
Menurut Purbaya, pertumbuhan positif penerimaan pajak ini mencerminkan aktivitas ekonomi nan semakin baik sejak awal tahun.
"Jadi kenaikan penerimaan pajak itu sejalan alias mengonfirmasi bahwa ekonomi betul-betul sedang mengalami perbaikan," kata Purbaya.
Ia menjelaskan, naiknya penerimaan pajak terutama ditopang oleh kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sebesar 57,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp155,6 triliun.
"PPN dan PPnBM tumbuhnya 57,7 persen. Artinya memang kualitas ekonominya banget lebih sibuk dibandingkan dengan periode nan sama tahun lalu," ujar Purbaya.
Penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) Badan, PPh Orang Pribadi dan PPh 21, PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 juga semuanya meningkat.
"PPh Orang Pribadi dan PPh 21 tumbuhnya 15,8 persen. Jadi ini suatu perihal nan menunjukkan bahwa memang ada perbaikan di perekonomian kita, dan juga kerja orang pajak lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Purbaya.
Tumbuhnya penerimaan pajak ini membikin pendapatan negara pada Januari-Maret 2026 secara keseluruhan mencapai Rp574,9 triliun, naik 10,5 persen secara tahunan.
Sementara itu, realisasi shopping negara pada kuartal I 2026 sebesar Rp815,0 triliun. Defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun alias 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menerangkan defisit APBN adalah perihal nan wajar. Tingkat defisit APBN saat ini sejalan dengan peningkatan realisasi shopping negara. Percepatan shopping dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun.
Pada tahun ini, penyerapan anggaran telah mencapai 21,2 persen, lebih tinggi dari rata-rata penyerapan anggaran pada kuartal I 2026, nan sekitar 17 persen terhadap APBN.
"Defisit anggaran adalah sesuatu nan normal. Kita monitor terus selama setahun bakal seperti apa pendapatannya dan belanjanya seperti apa. Jadi kita banget berhati-hati dalam mempertimbangkan perihal ini. Ini by design percepatan belanja, seperti nan saya sampaikan tadi bahwa kementerian dan lembaga kerja lebih cepat. Ini bakal memberikan kontribusi nan kuat pada pertumbuhan PDB di triwulan pertama 2026," ujar Purbaya.
[Gambas:Video CNN]
(dhz/pta)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·