Jakarta, CNN Indonesia --
Peringatan Hari Ibu di Indonesia tidak lahir begitu saja, tetapi mempunyai sejarah panjang nan mengenai dengan upaya kaum wanita dalam memperjuangkan hak-haknya.
Setiap tanggal 22 Desember, masyarakat Indonesia mengenang momentum berhistoris ini dengan beragam kegiatan. Berikut rangkuman asal usul, sejarah, dan tokoh Hari Ibu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Ibu bukan sekadar seremoni kasih sayang, tetapi tonggak krusial dalam aktivitas emansipasi perempuan. Di kembali seremoni ini, terdapat proses panjang nan melibatkan pemikiran kritis, aktivitas sosial, hingga konsolidasi organisasi wanita dari beragam daerah.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari pengaruh para tokoh wanita nan berani menyuarakan perubahan dan menolak keterbelakangan.
Dikutip dari kitab Sejarah untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas (2006) karya Nana Supriatna, berikut penjelasan mengenai asal usul peringatan Hari Ibu, sejarah, dan tokoh wanita nan berjasa.
Asal usul Hari Ibu di Indonesia
Hari Ibu nan diperingati setiap 22 Desember tidak hanya bermaksud merayakan peran ibu dalam keluarga, tetapi juga menghormati peran wanita dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan bangsa.
Akar sejarahnya berangkaian erat dengan tumbuhnya aktivitas wanita pada awal abad ke-20, ketika kesadaran mengenai pentingnya pendidikan, kesetaraan, dan peran sosial wanita mulai menguat.
Salah satu tokoh paling krusial dalam fase awal kebangkitan wanita Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini. Melalui pemikiran dan surat-suratnya nan terkumpul dalam kitab Habis Gelap Terbitlah Terang (1899), Kartini menyoroti ketimpangan nan dialami wanita dalam pendidikan, budaya istiadat, serta partisipasi sosial.
Menurutnya, pendidikan merupakan kunci kemajuan perempuan, tidak hanya untuk meningkatkan kecerdasan, tetapi juga membangun sopan santun, budi pekerti, dan tanggung jawab sebagai pendidik pertama bagi anak-anak. Pemikiran Kartini nan progresif mendorong lahirnya aktivitas wanita Indonesia.
Kartini menolak konservatisme nan membatasi wanita hanya pada ranah domestik. Ia menekankan bahwa tradisi nan tidak sesuai perkembangan era kudu diperbarui, termasuk patokan nan mengharuskan wanita hanya tinggal di rumah tanpa akses pendidikan.
Perkumpulan wanita dan perkembangan aktivitas kebangsaan
Setelah pemikiran Kartini menyebar dan sebagian wanita Indonesia memperoleh akses pendidikan Barat, beragam organisasi wanita mulai bermunculan.
Salah satu nan paling awal dan berpengaruh adalah Putri Mardika (1912), sebuah organisasi nan bermaksud memajukan pendidikan bagi anak perempuan, termasuk menyediakan support biaya dan penerangan mengenai pentingnya pengajaran.
Selain itu, sejumlah sekolah unik wanita turut didirikan untuk membuka akses pendidikan nan lebih luas. Di Bandung, Raden Dewi Sartika mendirikan sekolah Kaoetamaan Istri pada 1904.
Sekolah-sekolah Kartini kemudian berdiri di beragam kota seperti Jakarta (1913), Madiun (1914), Malang dan Cirebon (1916), Pekalongan (1917), serta Indramayu, Surabaya, dan Rembang (1918).
Kehadiran lembaga pendidikan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran kalangan wanita tentang perlunya peningkatan kualitas diri sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Pada 1920-an, aktivitas wanita semakin berkembang dengan lahirnya perkumpulan sosial dan organisasi kemasyarakatan. Di Minahasa berdiri organisasi De Gorontalosche Mohamedaansche Vrouwen Vereeniging, sedangkan di Yogyakarta muncul Wanita Utomo, nan mulai memasukkan wanita ke dalam aktivitas sosial dan pendidikan dasar.
Corak kebangsaan nan semakin menguat setelah 1920 menyebabkan kebutuhan untuk membangun hubungan dan kerjasama antarorganisasi perempuan. Pengaruh propaganda nasionalisme dari Partai Nasional Indonesia (PNI) turut mendorong konsolidasi aktivitas wanita dalam skala nasional.
Kongres wanita Indonesia dan lahirnya Hari Ibu
Tonggak utama dalam sejarah Hari Ibu adalah penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri oleh beragam organisasi wanita dari beragam daerah.
Beberapa tokoh nan datang antara lain Ny. Sukanto (Wanito Utomo), Nyi Hajar Dewantara (Taman Siswa bagian wanita), dan Nona Suyatin (Pemuda Indonesia bagian keputrian). Tujuan utama kongres adalah mempersatukan cita-cita serta memperjuangkan kemajuan wanita Indonesia.
Dalam forum tersebut, para peserta membahas isu-isu krusial seperti kedudukan wanita dalam perkawinan, poligami, pendidikan, dan partisipasi sosial.
Hasil terpenting dari kongres ini adalah dibentuknya federasi organisasi wanita berjulukan Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), nan kemudian berubah menjadi Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPPI) pada Kongres 1929 di Jakarta.
Kongres Perempuan Indonesia II (1935) kembali memperkuat pergerakan wanita melalui pembahasan rumor perburuhan, pemberantasan buta huruf, serta masalah perkawinan.
Kongres ini mendapat perhatian dari Komite Perempuan Sedunia di Paris, menandakan bahwa aktivitas wanita Indonesia telah diakui secara internasional.
Pada Kongres Perempuan Indonesia III tahun 1938 nan dipimpin Ny. Emma Puradireja, sebuah keputusan besar tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu.
Keputusan ini bukan hanya corak penghormatan kepada ibu sebagai figur keluarga, tetapi sebagai simbol kebangkitan wanita Indonesia nan berjuang dalam ranah sosial, pendidikan, dan politik.
Nah, itulah pemahaman mendalam tentang Hari Ibu. Semoga bermanfaat.
(gas/fef)
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·