Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto mengingatkan bahwa perguruan tinggi mempunyai peran strategis dalam mengoptimalkan bingkisan demografi. Ke depannya, perihal ini bakal berangkaian dengan dorongan pembangunan berkepanjangan dalam bingkai kedaulatan bangsa.
Hal itu disampaikan Bima Arya saat menghadiri Seminar Nasional dan Rapat Kerja Tahunan Badan Kerja Sama (BKS) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Barat Bidang Ilmu Sosial di Universitas Lampung, Jumat (17/4).
Dalam paparannya, Bima menekankan bahwa bingkisan demografi merupakan kesempatan besar nan berkarakter terbatas dan menentukan masa depan Indonesia. Karena itu, momentum tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal melalui kerjasama lintas sektor, termasuk antara pemerintah dan perguruan tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"The biggest challenge for Indonesian today is how to maximize bingkisan demografi menuju Indonesia Emas. Ini adalah momentum nan enggak banyak orang sadar," ujar Bima.
Ia menjelaskan, berasas proyeksi lembaga internasional seperti Bank Dunia, Indonesia berkesempatan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar bumi dalam 20 tahun mendatang. Namun, kesempatan tersebut hanya dapat tercapai andaikan Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) nan selama ini membatasi percepatan pertumbuhan.
Untuk itu, Bima mendorong kalangan akademisi untuk memperkuat pedoman info dan riset dalam membaca posisi Indonesia saat ini mengenai bingkisan demografi. Ia menilai, kampus mempunyai peran krusial sebagai pusat pengetahuan (center of knowledge) sekaligus think tank nan bisa menjembatani kesenjangan antara teori dan penerapan kebijakan.
"Nah ini baru tantangan saya untuk teman-teman kampus, mari kita compile info itu. Kemendagri bakal urun rembuk, kita bakal exchange ideas dan sharing data," kata Bima.
Ia kemudian menguraikan empat kunci keberhasilan negara-negara nan bisa melompat menjadi negara maju, ialah visi nasional nan berkelanjutan, kemandirian, kepemimpinan nan efektif, serta kerjasama dan inovasi.
Bima menyebut, tantangan Indonesia saat ini terletak pada belum optimalnya sinkronisasi kebijakan, lemahnya pedoman riset dalam pengambilan keputusan, serta ketimpangan kapabilitas fiskal daerah.
Di sisi lain, dia juga menekankan bahwa pembangunan berkepanjangan kudu dijalankan secara substantif dan berbasis data, bukan sekadar simbolik alias gimmick. Dalam perihal ini, perguruan tinggi diharapkan berkedudukan aktif dalam mencetak sumber daya manusia unggul, termasuk melalui penguatan green leadership di kalangan generasi muda.
Melalui forum ini, Bima berambisi sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi semakin kuat dalam memanfaatkan bingkisan demografi secara optimal, sehingga bisa mendorong lahirnya kebijakan nan adaptif, berbasis riset, dan berakibat nyata bagi pembangunan nasional nan berkelanjutan.
(rea/rir)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·