slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Makna Dan Tata Cara Lempar Jumrah Saat Ibadah Haji

Sedang Trending 2 jam yang lalu

CNN Indonesia

Senin, 20 Apr 2026 10:00 WIB

Lempar jumrah bukan sekadar ritual, tapi simbol melawan bujukan setan. Ini sejarah dan tata langkah lengkapnya sesuai syariat. Ilustrasi. Lempar jumrah saat beragama haji. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Jakarta, CNN Indonesia --

Lempar jumrah merupakan salah satu rangkaian krusial dalam ibadah haji nan dilakukan di Mina. Dalam momen ini, jutaan jemaah berkumpul dengan tujuan nan sama, ialah meneguhkan ketaatan dan menunjukkan kepatuhan kepada Allah SWT.

Sejarah dan tata langkah lempar jumrah untuk jemaah haji menjadi perihal krusial untuk dipahami, lantaran prosesi ini bukan sekadar melempar batu, melainkan sarat makna spiritual nan mendalam.

Lebih dari sekadar aktivitas fisik, lempar jumrah mengajarkan keteguhan hati dalam menghadapi bujukan nan datang silih berganti dalam kehidupan. Setiap kerikil nan dilempar menjadi simbol perlawanan terhadap bisikan setan nan berupaya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, ritual ini juga mengingatkan pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan konsistensi dalam menjalankan perintah Allah SWT. Mengacu pada Tuntunan Manasik Haji dan Umrah 2026 nan disusun Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, berikut penjelasannya.

Sejarah lempar jumrah

Melontar jumrah adalah rangkaian ibadah haji dengan melempar batu kerikil ke tiga titik, ialah Jumrah Sughra, Jumrah Wustha, dan Jumrah Kubra (Aqabah), dengan niat agar kerikil mengenai sasaran (marma) dan masuk ke area nan telah ditentukan. Hukum melontar jumrah adalah wajib. Jika ditinggalkan, jemaah dikenakan dam alias fidyah.

Sejarah lempar jumrah berasal dari kisah Nabi Ibrahim AS nan mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail AS. Perintah ini menjadi ujian besar nan menguji keagamaan dan ketaatan beliau.

Dalam perjalanan melaksanakan perintah tersebut, setan datang untuk menggoda Nabi Ibrahim agar mengurungkan niatnya. Ia berupaya menanamkan keraguan dengan menyebut tindakan tersebut kejam. Namun, Nabi Ibrahim tetap teguh dalam keimanannya.

Sebagai corak perlawanan, beliau mengambil batu kerikil dan melemparkannya ke arah iblis. Peristiwa ini menjadi simbol pelemparan Jumrah Sughra.

Godaan kemudian beranjak kepada Siti Hajar. Iblis mencoba memengaruhinya dengan mengatakan bahwa seorang ibu tidak bakal tega memandang anaknya disembelih.

Namun, Siti Hajar tetap teguh dan melempar batu kerikil sebagai corak penolakan. Peristiwa ini menjadi simbol Jumrah Wustha.

Selanjutnya, setan mencoba menggoda Ismail AS. Namun, Ismail menunjukkan keteguhan ketaatan nan luar biasa dan tetap alim terhadap perintah Allah SWT.

Pada akhirnya, Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail bersama-sama melempari iblis. Peristiwa ini diabadikan sebagai pelemparan Jumrah Aqabah.

Dari kisah tersebut, dapat dipahami bahwa lempar jumrah bukan sekadar ritual, melainkan simbol perlawanan terhadap bujukan setan. Iblis bakal selalu berupaya menghalangi manusia dalam melakukan kebaikan.

Ritual ini juga menjadi pengingat bahwa setiap Muslim perlu mempunyai keteguhan ketaatan dalam menghadapi ujian. Selain itu, kisah ini menegaskan pentingnya kekuatan family sebagai tembok menghadapi cobaan. Nilai keikhlasan menjadi kunci utama dalam menjalani perintah Allah SWT.

Tata langkah lempar jumrah untuk jemaah haji

Setelah memahami sejarahnya, krusial juga mengetahui tata langkah lempar jumrah untuk jemaah haji sesuai tuntunan syariat.

Waktu pelaksanaan:

• 10 Dzulhijjah: Jemaah hanya melempar Jumrah Aqabah. Waktu dimulai sejak terbit mentari hingga menjelang fajar 11 Dzulhijjah. Jumlah kerikil sebanyak tujuh butir, dilempar satu per satu.

• 11-13 Dzulhijjah (hari Tasyrik): Jemaah melempar tiga jumrah secara berurutan, ialah Jumrah Sughra, Wustha, dan Aqabah. Masing-masing dilempar tujuh butir kerikil.

Tata langkah pelaksanaan:

• Kerikil kudu mengenai sasaran (marma) dan masuk ke area nan ditentukan.

• Setiap jumrah dilempar dengan tujuh butir kerikil secara terpisah. Jika dilempar sekaligus, hanya dihitung satu lontaran.

• Urutan pelemparan dimulai dari Jumrah Sughra, dilanjutkan Wustha, dan diakhiri Aqabah.

Ketepatan dalam tata langkah ini menjadi syarat krusial agar ibadah sah dan sesuai tuntunan.

Dalam kondisi tertentu, seperti sakit alias uzur syar'i, jemaah diperbolehkan mewakilkan penyelenggaraan lempar jumrah kepada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kemudahan tanpa menghilangkan prinsip ibadah.

Cara mewakilkan lempar jumrah:

• Orang nan mewakili melempar untuk dirinya sendiri terlebih dulu secara sempurna, kemudian untuk orang nan diwakili.

• Alternatif lain, perwakil dapat melempar pada satu jumrah untuk dirinya sendiri, lampau langsung melempar untuk nan diwakili sebelum beranjak ke jumrah berikutnya.

Sejarah dan tata langkah lempar jumrah untuk jemaah haji menjadi pengingat bahwa ibadah ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol nyata perjuangan manusia dalam melawan bujukan setan dan menjaga keagamaan kepada Allah SWT.

(gas/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru